Sedap Sekejap Edisi 01/I-Desember 1999

 

Dra. Jacky Ambadar

"MERASA HIDUP KALAU DAPAT TANTANGAN"

Bukan main banyak ragam usahanya. Dari mulai membuat perlengkapan bayi, kitchen set, pernak-pernik dapur, jasa riset, menulis syair lagu anak-anak, sampai mendirikan sekolah untuk anak-anak. Kendati memiliki segudang usaha, ia mengaku tidak terlalu sibuk. "Karena semua pekerjaan ada delegasinya," katanya.


Kalau Anda menemukan pernak-pernik dapur atau perangkat makan bertuliskan, "Natura", nah, Jacky Ambadar-lah (51) pencetus idenya. Ia direktur utama P.T. Lembanindo Tirta Anugerah yang membawahi Natura dan beberapa perusahaan lain. Namun jangan heran bila namanya juga berkibar di bidang lain, seperti penulis syair lagu anak atau kolomnis majalah wanita. Karena seperti pengakuannya, Jacky termasuk orang yang resah bila hanya menjalankan yang rutin-rutin saja. "Saya amat menyukai tantangan," tandasnya. Nah, mari ikuti perbincangan Sedap Sekejap dengan ibu dua anak yang gemar berkebun dan fotografi ini.

T (tanya): Apakah Natura merupakan awal dari usaha Anda?

J(jawab): Oh, bukan. Seusai pendidikan saya di Sosiologi Universitas Indonesia kira-kira 20 tahun lalu, saya bersama teman-teman membuka perusahaan jasa. Antara lain, jasa riset, konsultan sumberdaya manusia, dan jasa pelatihan. Namanya Surindo Utama. Beberapa tahun kemudian saya membantu adik saya, Ida, mengembangkan Le Monde, usaha pembuatan perlengkapan bayi.

T: Dari bidang riset dan perlengkapan bayi, kok, tiba-tiba bisa ke perabot dapur, tuh bagaimana ceritanya

J: Sembilan tahun lalu saya melihat image dapur sebagai area kumuh yang tempatnya di belakang rumah. Saya terpanggil ingin memperbaiki image seperti itu karena menurut saya dapur justru bisa dijadikan tempat untuk menjalin hubungan antarkeluarga. Bukankah di situ kita bisa masak bersama anak-anak atau suami?

T: Tentu tidak mudah mengubah image seperti itu mengingat image dapur sebagai tempat "kotor" sudah begitu melekat pada kebiasaan kita?

J: Nah, itulah tantangannya bagi Natura saat itu. Bayangkan saya menciptakan bukan cuma lemari dapur yang indah, tetapi juga aneka pernik cantik. Mulai dari perangkat hidang, serbet, cempal, sampai sarung tangan. Sementara saat itu siapa yang peduli dengan benda-benda itu di dapur? Tetapi saya maju terus. Karena menurut saya selama ini suami-suami tidak mau masuk dapur, bukan karena manja, tetapi karena dapur kita jorok dan tidak efisien. Bagaimana suami mau mendadar telur sendiri kalau wajannya saja harus dicari susah payah di antara tumpukan panci atau bumbunya menyelip entah di mana.

T: Lemari dapur Natura tentu tidak seperti itu, ya?

J: Ha....ha...ha... Tentu saja tidak. Saya justru membuat dapur yang dekoratif supaya siapa pun yang masuk ke situ merasa nyaman, bukan merasa masuk ke tempat yang jorok. Selain itu saya juga menyusun dapur sedemikian rupa hingga efisien. Kita tak perlu lalu-lalang kebingungan mencari alat di dapur kita sendiri. Nah, kalau sudah begini, kan, dapur jadi fungsional. Bukan cuma tempat masak, tetapi juga tempat kumpul keluarga. Dengan dapur yang saya buat, saya pikir tak perlulah kita mubazir menyediakan dapur bersih dan kotor. Cukup satu dapur, tetapi bersih dan nyaman.

T: Bagaimana cara Natura menciptakan dapur yang dekoratif?

J: Saya menciptakan perangkat dapur cantik yang dekorasinya alam. Karena motto perusahaan saya memang "close to nature. Jadi, gambar-gambar serbet, cangkir, atau taplak memang dipilih yang alami dan membuat kita merasa dekat dengan alam. Misalnya, bunga matahari, bunga tulip, burung, dan yang baru saja keluar adalah sayur-mayur.

T: Kalau dapur yang efisien?

J: Dapur yang efisien itu harus membuat kita tidak perlu mondar-mandir saat memasak. Semua perabot harus tertata sesuai proses memasak yang kita lakukan

Jangan sampai letak pisau jauh dari meja rajang atau tempat bumbu jauh dari area memasak .Dan karena tiap keluarga berbeda kebiasaan memasaknya, kami sengaja menyediakan kitchen set yang knock down hingga bisa disesuaikan dengan kebiasaan memasak masing-masing orang.

T: Dalam perjalanannya kemudian, apakah Anda merasa keinginan Anda menjadikan dapur tempat komunikasi keluarga sudah tercapai?

J: Saya rasa ia. Sekarang kalau ibu-ibu masuk ke show room saya, bapak-bapaknya, kok, yang menyarankan mereka untuk membeli. Artinya, bapak-bapak sebetulnya juga mendambakan dapur yang cantik meski selama ini dapur "jauh" dari kehidupan para bapak. Padahal 5 tahun pertama pelanggan saya umumnya orang asing. Sampai-sampai kalau mau pulang, wah, mereka borong produk-produk saya. Sekarang, sih, tak cuma orang asing, orang Indonesia pun banyak sekali.

T: Pantas, ya, Natura maju pesat?

J: Ya, momentumnya memang tepat sekali. Saat itu real estate juga berkembang pesat, kan? Image dapur pun perlahan-lahan berubah. Kalau dulu orang membangun dapur di belakang, kini orang bikin dapur justru di depan. Nah, kalau sudah letaknya di depan, keindahannya, kan, harus tampak, tidak boleh jorok lagi.

T: Tetapi sekarang, kan, ukuran dapur makin kecil saja. Apakah Natura juga menyediakan perangkat dapur mini?

J: Ya, karena sistem knock down, fleksibel ukurannya. Bahkan bagi rumah kecil kita sediakan dapur yang ada pantry hingga tidak diperlukan lagi ruang makan. Dapur Natura juga warnanya natural, seperti warna kayu ramin hingga kesannya luas. Untuk membuatnya tidak tampak monoton, saya menyediakan pernak-pernik yang kontras. Tetapi bagi mereka yang kurang suka warna ramin, saya juga menyediakan dapur hitam putih bermotif zebra.

T: Apa kesulitan Anda sekarang menghadapi kompetitor yang makin banyak?

J: Yang paling saya kesal, produk saya sering ditiru mentah-mentah. Dulu saya

bikin miniatur buah-buah dan sayur-sayur untuk digantung di dapur. Wah,langsung di mana-mana ada tiruannya. Begitu juga dengan placemate dan sarung tangan. Tetapi saya pikir itulah seninya usaha. Dunia yang kompetitif seperti ini justru membuat kita tidak tidur. Cuma saya merasa sayang kenapa, kok, mereka tidak berusaha menciptakan produk sendiri.

T: Anda tidak takut kehilangan pelanggan karena produk Anda selalu ditiru?

J: Tidak karena saya sudah punya kelas tertentu dan pelanggan yang loyal. Banyak, lo, pelanggan saya yang rajin datang hanya untuk menanyakan kalau-kalau saya sudah punya produk baru. Ya, saya senang produk saya dicintai konsumen.

T: Jadi tiap kali Anda ganti tema, para pelanggan Anda juga mengganti dekorasinya

J: Ada memang pelanggan seperti itu. Tetapi di show room, kami menyediakan tenaga desainer interior. Hingga kalaupun para pelanggan saya berniat mengganti, tidak membabi-buta caranya. Yang masih bagus, tidak kita sarankan diganti. Lalu yang usang kita sarankan padanannya dengan yang lama. Sampai-sampai mereka suka ngomel, kok, mau beli malah dilarang. Soalnya, saya juga ngak mau kalau mereka pakai produk Natura, tetapi yang terlihat malah norak karena tabrakan motif atau warna.

T: Berapa kali dalam setahun Natura ganti motif?

J: Dalam setahun kami mengeluarkan 2 motif baru. Biasanya Natal dan Lebaran Pada tiap produk kami juga melampirkan kartu kecil bertuliskan keterangan tentang motif yang dikeluarkan. Misalnya, bunga tulip. Apa, sih, bunga tulip itu. Di mana hidupnya dan lain sebagainya.

T: Wah, hebat, ya bisa terpikir ke detail-detailnya seperti itu.

J: Ha...ha...ha... bukan terpikir, memang sengaja dipikirkan.

T: Apa, saja, sih, produk yang Anda keluarkan selain lemari dapur.?

J: Oh, banyak sekali. Antara lain, perangkat makan seperti piring, panci, mangkuk, mug, jok kursi, serbet, cempal, placemate, taplak, juga gorden.

T: Agaknya motif apa pun yang Anda ciptakan selalu bisa diterima pasar. Apa rahasianya?

J: Saya sering mengobrol dengan penjaga showroom. Mereka,kan, sesungguhnya yang jadi jembatan antara saya dengan konsumen. Pendeknya merekalah ujung tombak kita. Selain itu tentu saja quality control.

T: Konon sekarang Anda juga merambah bidang lain?

J: Ia, saya mendirikan ABC To Z Kids Club. Ini klub untuk anak-anak bermain dan belajar. Modulnya dari A sampai z. Ini betul-betul baru di Indonesia dan bukan menyontek dari luar. Kalau bahasanya Inggris, antara lain saya berharap agar modul kita ini pun kelak bisa dijual ke luar. Jadi bukan cuma dari luar ke sini seperti yang terjadi selama ini. Anehnya pula baru 2 - 3 modul yang saya keluarkan di pameran, yang mengajak buka cabang sudah banyak.

T: Anda tampaknya gemar menciptakan hal-hal baru, ya.

J: Ha...ha...ha... Tepat sekali. Ketika 19 tahun lalu saya mendirikan Surindo Utama, juga belum ada usaha jasa seperti itu. Begitu juga ketika buka Le Monde. Kecuali karena suka tantangan, sebetulnya kalau kita jadi trendsetter, malah mudah langkahnya karena belum ada saingan dan saya juga bisa menggiring pelanggan. Maksudnya kita bisa bebas menentukan target konsumen. Cuma risikonya juga ada. Karena belum ada yang mulai, kita belum tahu sejauh mana orang menerima produk kita.

T: Rasanya bukan cuma itu alasan Anda senang mencipta hal-hal baru?

J: Ha...ha...ha... Saya memang tipe pendobrak. Saya resah kalau kehidupan cuma berjalan rutin. Saya merasa "hidup" kalau memulai sesuatu yang baru. Sifat ini secara tidak langsung diturunkan oleh orang tua saya. Ibu saya senang ngutak-ngatik. Dialah guru besar kami. Ayah saya adalah peneliti. Kami keluarga besar. Saya adalah anak kedua dari 13 bersaudara. Tetapi kami amat kompak. Semua usaha ini pun digerakkan oleh seluruh keluarga. Le Monde, misalnya, yang mendirikan adik saya, Nina tahun 1986. Modalnya cuma 1 mesin jahit. Tahun 1990 kami seriusi hingga menjadi besar seperti sekarang. Kini seluruh karyawan 650 orang. Jangan kaget, saya juga bikin syair lagu anak-anak dan kini menjadi kolomnis di majalah wanita tentang pendidikan anak.

T: Terus-terang saya kaget. Jangan-jangan dalam waktu dekat besok, Anda juga sudah akan menciptakan usaha baru lagi.

J: Ha....ha....ha... Belum, belum, kok. Saya sudah diingatkan suami, kalau terus membuka bidang baru, konsenterasi saya harus ke bidang baru itu. Nah, kalau begitu terus, katanya, kapan saya bisa belajar arti hidup yang sesungguhnya. Saya kira, dia betul. Makanya sekarang saya konsenterasi pada usaha yang ada dulu.

T: Habis Anda juga sibuk, sih?

J: Enggak, kok. Saya sama sekali tidak sibuk karena saya menerapkan delegation of authority. Bukan cuma satu orang yang memegang semua tugas. Karena menurut saya setiap orang punya kelemahan. Saya, misalnya lemah di-maintained. Karena itu saya ditempatkan sebagai pengembangan produk. Adik saya yang lain bidangnya lain lagi.

T: Suami Anda ikut membantu di perusahaan ini?

J: Oh, tidak. Suami saya bergerak di bidang periklanan. Tetapi dia amat mendorong saya. Dia membiarkan saya bekerja. Karena yang terpenting bukan hanya penghasilannya, tetapi juga terbukanya wawasan, kan? sdp @Semy

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA