|
Kalau Anda menemukan pernak-pernik dapur atau perangkat makan
bertuliskan, "Natura", nah, Jacky Ambadar-lah
(51) pencetus idenya. Ia direktur utama P.T. Lembanindo Tirta
Anugerah yang membawahi Natura dan beberapa perusahaan lain. Namun
jangan heran bila namanya juga berkibar di bidang lain, seperti
penulis syair lagu anak atau kolomnis majalah wanita. Karena
seperti pengakuannya, Jacky termasuk orang yang resah bila hanya
menjalankan yang rutin-rutin saja. "Saya amat menyukai
tantangan," tandasnya. Nah, mari ikuti perbincangan Sedap
Sekejap dengan ibu dua anak yang gemar berkebun dan fotografi
ini.
T (tanya):
Apakah Natura merupakan awal dari usaha Anda?
J(jawab): Oh,
bukan. Seusai pendidikan saya di Sosiologi Universitas Indonesia
kira-kira 20 tahun lalu, saya bersama teman-teman membuka
perusahaan jasa. Antara lain, jasa riset, konsultan sumberdaya
manusia, dan jasa pelatihan. Namanya Surindo Utama. Beberapa tahun
kemudian saya membantu adik saya, Ida, mengembangkan Le Monde,
usaha pembuatan perlengkapan bayi.
T: Dari bidang
riset dan perlengkapan bayi, kok, tiba-tiba bisa ke perabot dapur,
tuh bagaimana ceritanya
J: Sembilan tahun
lalu saya melihat image dapur sebagai area kumuh yang
tempatnya di belakang rumah. Saya terpanggil ingin memperbaiki image
seperti itu karena menurut saya dapur justru bisa dijadikan tempat
untuk menjalin hubungan antarkeluarga. Bukankah di situ kita bisa
masak bersama anak-anak atau suami?
T: Tentu tidak
mudah mengubah image seperti itu mengingat image dapur sebagai
tempat "kotor" sudah begitu melekat pada kebiasaan kita?
J: Nah, itulah
tantangannya bagi Natura saat itu. Bayangkan saya menciptakan
bukan cuma lemari dapur yang indah, tetapi juga aneka pernik
cantik. Mulai dari perangkat hidang, serbet, cempal, sampai sarung
tangan. Sementara saat itu siapa yang peduli dengan benda-benda
itu di dapur? Tetapi saya maju terus. Karena menurut saya selama
ini suami-suami tidak mau masuk dapur, bukan karena manja, tetapi
karena dapur kita jorok dan tidak efisien. Bagaimana suami mau
mendadar telur sendiri kalau wajannya saja harus dicari susah
payah di antara tumpukan panci atau bumbunya menyelip entah di
mana.
T: Lemari dapur
Natura tentu tidak seperti itu, ya?
J: Ha....ha...ha...
Tentu saja tidak. Saya justru membuat dapur yang dekoratif supaya
siapa pun yang masuk ke situ merasa nyaman, bukan merasa masuk ke
tempat yang jorok. Selain itu saya juga menyusun dapur sedemikian
rupa hingga efisien. Kita tak perlu lalu-lalang kebingungan
mencari alat di dapur kita sendiri. Nah, kalau sudah begini, kan,
dapur jadi fungsional. Bukan cuma tempat masak, tetapi juga tempat
kumpul keluarga. Dengan dapur yang saya buat, saya pikir tak
perlulah kita mubazir menyediakan dapur bersih dan kotor. Cukup
satu dapur, tetapi bersih dan nyaman.
T: Bagaimana
cara Natura menciptakan dapur yang dekoratif?
J: Saya menciptakan
perangkat dapur cantik yang dekorasinya alam. Karena motto
perusahaan saya memang "close to nature. Jadi,
gambar-gambar serbet, cangkir, atau taplak memang dipilih yang
alami dan membuat kita merasa dekat dengan alam. Misalnya, bunga
matahari, bunga tulip, burung, dan yang baru saja keluar adalah
sayur-mayur.
T: Kalau dapur
yang efisien?
J: Dapur yang
efisien itu harus membuat kita tidak perlu mondar-mandir saat
memasak. Semua perabot harus tertata sesuai proses memasak yang
kita lakukan
Jangan sampai letak
pisau jauh dari meja rajang atau tempat bumbu jauh dari area
memasak .Dan karena tiap keluarga berbeda kebiasaan memasaknya,
kami sengaja menyediakan kitchen set yang knock down
hingga bisa disesuaikan dengan kebiasaan memasak masing-masing
orang.
T:
Dalam perjalanannya kemudian, apakah Anda merasa keinginan Anda
menjadikan dapur tempat komunikasi keluarga sudah tercapai?
J: Saya rasa ia.
Sekarang kalau ibu-ibu masuk ke show room saya,
bapak-bapaknya, kok, yang menyarankan mereka untuk membeli.
Artinya, bapak-bapak sebetulnya juga mendambakan dapur yang cantik
meski selama ini dapur "jauh" dari kehidupan para bapak.
Padahal 5 tahun pertama pelanggan saya umumnya orang asing.
Sampai-sampai kalau mau pulang, wah, mereka borong produk-produk
saya. Sekarang, sih, tak cuma orang asing, orang Indonesia pun
banyak sekali.
T: Pantas, ya,
Natura maju pesat?
J: Ya, momentumnya
memang tepat sekali. Saat itu real estate juga berkembang
pesat, kan? Image dapur pun perlahan-lahan berubah. Kalau
dulu orang membangun dapur di belakang, kini orang bikin dapur
justru di depan. Nah, kalau sudah letaknya di depan, keindahannya,
kan, harus tampak, tidak boleh jorok lagi.
T: Tetapi
sekarang, kan, ukuran dapur makin kecil saja. Apakah Natura juga
menyediakan perangkat dapur mini?
J: Ya, karena
sistem knock down, fleksibel ukurannya. Bahkan bagi rumah
kecil kita sediakan dapur yang ada pantry hingga tidak
diperlukan lagi ruang makan. Dapur Natura juga warnanya natural,
seperti warna kayu ramin hingga kesannya luas. Untuk membuatnya
tidak tampak monoton, saya menyediakan pernak-pernik yang kontras.
Tetapi bagi mereka yang kurang suka warna ramin, saya juga
menyediakan dapur hitam putih bermotif zebra.
T: Apa kesulitan
Anda sekarang menghadapi kompetitor yang makin banyak?
J: Yang paling saya
kesal, produk saya sering ditiru mentah-mentah. Dulu saya
bikin miniatur
buah-buah dan sayur-sayur untuk digantung di dapur. Wah,langsung
di mana-mana ada tiruannya. Begitu juga dengan placemate
dan sarung tangan. Tetapi saya pikir itulah seninya usaha. Dunia
yang kompetitif seperti ini justru membuat kita tidak tidur. Cuma
saya merasa sayang kenapa, kok, mereka tidak berusaha menciptakan
produk sendiri.
T: Anda tidak
takut kehilangan pelanggan karena produk Anda selalu ditiru?
J: Tidak karena
saya sudah punya kelas tertentu dan pelanggan yang loyal. Banyak,
lo, pelanggan saya yang rajin datang hanya untuk menanyakan
kalau-kalau saya sudah punya produk baru. Ya, saya senang produk
saya dicintai konsumen.
T:
Jadi tiap kali Anda ganti tema, para pelanggan Anda juga mengganti
dekorasinya
J: Ada memang
pelanggan seperti itu. Tetapi di show room, kami
menyediakan tenaga desainer interior. Hingga kalaupun para
pelanggan saya berniat mengganti, tidak membabi-buta caranya. Yang
masih bagus, tidak kita sarankan diganti. Lalu yang usang kita
sarankan padanannya dengan yang lama. Sampai-sampai mereka suka ngomel,
kok, mau beli malah dilarang. Soalnya, saya juga ngak mau
kalau mereka pakai produk Natura, tetapi yang terlihat malah norak
karena tabrakan motif atau warna.
T: Berapa kali
dalam setahun Natura ganti motif?
J: Dalam setahun
kami mengeluarkan 2 motif baru. Biasanya Natal dan Lebaran Pada
tiap produk kami juga melampirkan kartu kecil bertuliskan
keterangan tentang motif yang dikeluarkan. Misalnya, bunga tulip.
Apa, sih, bunga tulip itu. Di mana hidupnya dan lain sebagainya.
T: Wah, hebat,
ya bisa terpikir ke detail-detailnya seperti itu.
J: Ha...ha...ha...
bukan terpikir, memang sengaja dipikirkan.
T: Apa, saja,
sih, produk yang Anda keluarkan selain lemari dapur.?
J: Oh, banyak
sekali. Antara lain, perangkat makan seperti piring, panci,
mangkuk, mug, jok kursi, serbet, cempal, placemate, taplak, juga
gorden.
T: Agaknya motif
apa pun yang Anda ciptakan selalu bisa diterima pasar. Apa
rahasianya?
J: Saya sering
mengobrol dengan penjaga showroom. Mereka,kan, sesungguhnya
yang jadi jembatan antara saya dengan konsumen. Pendeknya
merekalah ujung tombak kita. Selain itu tentu saja quality
control.
T:
Konon sekarang Anda juga merambah bidang lain?
J: Ia, saya
mendirikan ABC To Z Kids Club. Ini klub untuk anak-anak bermain
dan belajar. Modulnya dari A sampai z. Ini betul-betul baru di
Indonesia dan bukan menyontek dari luar. Kalau bahasanya Inggris,
antara lain saya berharap agar modul kita ini pun kelak bisa
dijual ke luar. Jadi bukan cuma dari luar ke sini seperti yang
terjadi selama ini. Anehnya pula baru 2 - 3 modul yang saya
keluarkan di pameran, yang mengajak buka cabang sudah banyak.
T: Anda
tampaknya gemar menciptakan hal-hal baru, ya.
J: Ha...ha...ha...
Tepat sekali. Ketika 19 tahun lalu saya mendirikan Surindo Utama,
juga belum ada usaha jasa seperti itu. Begitu juga ketika buka Le
Monde. Kecuali karena suka tantangan, sebetulnya kalau kita jadi trendsetter,
malah mudah langkahnya karena belum ada saingan dan saya juga bisa
menggiring pelanggan. Maksudnya kita bisa bebas menentukan target
konsumen. Cuma risikonya juga ada. Karena belum ada yang mulai,
kita belum tahu sejauh mana orang menerima produk kita.
T: Rasanya bukan
cuma itu alasan Anda senang mencipta hal-hal baru?
J: Ha...ha...ha...
Saya memang tipe pendobrak. Saya resah kalau kehidupan cuma
berjalan rutin. Saya merasa "hidup" kalau memulai
sesuatu yang baru. Sifat ini secara tidak langsung diturunkan oleh
orang tua saya. Ibu saya senang ngutak-ngatik. Dialah guru
besar kami. Ayah saya adalah peneliti. Kami keluarga besar. Saya
adalah anak kedua dari 13 bersaudara. Tetapi kami amat kompak.
Semua usaha ini pun digerakkan oleh seluruh keluarga. Le Monde,
misalnya, yang mendirikan adik saya, Nina tahun 1986. Modalnya
cuma 1 mesin jahit. Tahun 1990 kami seriusi hingga menjadi besar
seperti sekarang. Kini seluruh karyawan 650 orang. Jangan kaget,
saya juga bikin syair lagu anak-anak dan kini menjadi kolomnis di
majalah wanita tentang pendidikan anak.
T: Terus-terang
saya kaget. Jangan-jangan dalam waktu dekat besok, Anda juga sudah
akan menciptakan usaha baru lagi.
J:
Ha....ha....ha... Belum, belum, kok. Saya sudah diingatkan suami,
kalau terus membuka bidang baru, konsenterasi saya harus ke bidang
baru itu. Nah, kalau begitu terus, katanya, kapan saya bisa
belajar arti hidup yang sesungguhnya. Saya kira, dia betul.
Makanya sekarang saya konsenterasi pada usaha yang ada dulu.
T: Habis Anda
juga sibuk, sih?
J: Enggak,
kok. Saya sama sekali tidak sibuk karena saya menerapkan delegation
of authority. Bukan cuma satu orang yang memegang semua tugas.
Karena menurut saya setiap orang punya kelemahan. Saya, misalnya
lemah di-maintained. Karena itu saya ditempatkan sebagai
pengembangan produk. Adik saya yang lain bidangnya lain lagi.
T: Suami Anda
ikut membantu di perusahaan ini?
J: Oh, tidak. Suami
saya bergerak di bidang periklanan. Tetapi dia amat mendorong
saya. Dia membiarkan saya bekerja. Karena yang terpenting bukan
hanya penghasilannya, tetapi juga terbukanya wawasan, kan? sdp
@Semy |