Sedap Sekejap Edisi 10/I-September 2000

 

Memulai Bisnis Resto
Yang Spesialis Lebih Untung
KETIMBANG YANG UMUM

 

Buka restoran boleh jadi dipandang orang sebagai usaha yang bakal mengantongi keuntungan besar. Bukankah sehari kita makan paling sedikit tiga kali? Sementara orang yang enggan memasak kian hari kian banyak jumlahnya. Nah, restoran pasti dibutuhkan. Banyak orang yang mengira, jumlah jenis masakan menjadi daya tarik paling besar yang dapat mengundang orang melangkah ke sebuah restoran. "Salah!" Ulas pakar managemen terkenal Kafi Kurnia. Jawaban yang benar bisa Anda simak lewat tulisannya yang selalu menarik.

 

Tahukah Anda masakan Indonesia mana yang dikagumi dan terpilih mewakili Indonesia? Tentu Anda berpikir Gado-Gado dan Sate, pilihannya. Atau Nasi Goreng! Ternyata salah semua. Menurut majalah AsiaWeek, yang menurunkan artikel khusus tentang ASIA BEST, edisi 18 Agustus 2000, yang terpilih adalah Rendang.

Mulanya saya garuk-garuk kepala juga. Namun bila saya urut-urut, ada benarnya juga. Setiap kali saya dinas ke luar negeri, sampai lewat 2-3 minggu, selalu ada masanya saya kangen sama masakan Indonesia. Dan kalau kebetulan saya menemukan resto Indonesia di luar negeri, hampir dipastikan saya selalu mencari rendang di menu.

Celakanya boleh dikata 80 persen saya kecewa karena rendang yang disajikan, selalu jauh dari harapan saya. Rendang memang istimewa. Majalah AsiaWeek sendiri, menggambarkan rendang secara magis. Tulis mereka, "Jangan terkecoh dengan penampilan rendang yang berwarna gelap kehitaman. Karena rendang yang asli, selalu empuk dan tidak kering di dalamnya." Namun rendang memang seringkali diremehkan. Jarang ada resto di Jakarta sendiri, yang bisa memasak rendang secara benar.

Di Singapura, saya memiliki teman, yang selalu minta dibawakan rendang dari sebuah resto di Melawai. Ia mengaku suka sekali makan rendang dengan nasi hangat-hangat. Yum ! Mendengarnya saja, saya sudah merasa lapar. Ia juga suka makan rendang dengan mencabik-cabik rendang dan dimakan bersama roti tawar. Wuih! Makin lapar saja saya.

Di sebuah hotel berbintang lima, di daerah Kebayoran, saya pernah menyantap steak dengan saos rendang. Enak sekali. Unik, tapi kental dengan rasa Asia. Lagi, di sebuah restoran Itali di daerah Sudirman, saya pernah makan pasta spageti juga dengan saos rendang. Juga enak sekali! Jadi, benar sekali apa yang ditulis artikel majalah AsiaWeek tentang kesaktian rendang dari Indonesia.

Cuma memang tidak ada orang yang mau menekuni rendang dan menjadikannya bekal untuk bisnis resto keluarga. Padahal peluangnya besar sekali. Ketika SD, saya masih tinggal di daerah Tangki Wood, Jakarta Barat, di sana ada seorang ibu dari Sumatera yang menjajakan nasi rames dari rumahnya. Ibu saya suka membeli. Saya ingat betul, salah satu menu yang membuat kita selalu ketagihan dan penasaran adalah rendangnya. Pedas sekali, tapi gurih luar biasa. Sayangnya tak lama kemudian ibu itu pindah, entah ke mana. Hingga kini, saya masih terkenang dengan rendang beliau walaupun sudah lebih dari 20 tahun.

Ketika saya kuliah di Australia, di asrama Mahasiswa Malaysia di Randwick, Sydney, di kantin-nya ada pula seorang ibu, yang menjual nasi bungkus murah. Menunya sederhana, telur goreng cabe, sayuran, dan berganti-ganti ayam bumbu rendang atau daging rendang. Saat itu, saya juga sering membelinya. Karena bumbu rendangnya, mengingatkan saya pada pengalaman masa kecil saya.

Cerita di atas mungkin bisa menjadi ilustrasi, bahwa memulai bisnis resto keluarga, tidaklah sulit. Asal Anda mau menekuni salah satu jenis makanan sebagai titik awalnya. Anda cukup mahir satu jenis makanan saja. Tidak perlu banyak -banyak. 

Banyak resto keluarga diawali oleh satu jenis makanan sebagai andalan. Misalnya, ayam goreng, es teler, sate, gado-gado, atau soto. Kalau ditekuni dengan benar lama-kelamaan akan terkenal dan menghasilkan bisnis restoran yang tidak main-main besarnya.

Ayam goreng Mbok Berek, misalnya sudah berkembang menjadi sejumlah jaringan restoran. Demikian juga Es Teler 77. Sate Melawai, Bakmi Gajah Mada, atau Soto Ayam Bangkong. Semuanya menjadi imperium bisnis yang cukup besar saat ini.

Untuk start awal, juga tidak harus langsung membuka restoran dengan modal besar. Cukup dari rumah kemudian menyebar ke kalangan tetangga, relasi, dan seterusnya. Seorang teman saya, ibunya adalah pembuat kue lapis kelas atas. Tidak tanggung-tanggung, harganya 250 ribu per loyang. Tidak ada merek, tidak ada toko. Semuanya dilakukan dari rumah. Berkat bisnis kue lapisnya, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga selesai. Kini, tiap tahun tidak jarang ia libur keluar negeri hingga sebulan. Semuanya berkat bisnis kue lapis kecil-kecilan ini.

Cerita-cerita di atas, memperlihatkan 2 kunci strategi bisnis resto keluarga. Pertama, Anda hanya perlu memilih satu jenis makanan sebagai titik awal. Strategi ini, namanya spesialisasi dalam ilmu pemasaran. Sama seperti dokter umum dan dokter spesialis. Dokter spesialis yang terkenal, jelas 

bayarannya lebih tinggi dibandingkan dokter umum. Jadi, apabila Anda ingin sukses berbisnis resto keluarga, pilihlah sebuah spesialisasi. Dengan menjadi spesialis, konsep resto Anda akan menjadi jelas sekali. Anda sekaligus memiliki perbedaan yang unik. Perbedaan inilah yang menjadi sumber daya saing Anda.

Kedua, dengan memilih spesialisasi Anda mudah mencari ide awal bisnis Anda Karena makanan Indonesia sangat banyak jumlahnya dan beragam jenisnya. Restoran ayam goreng misalnya, baru dua saja yang terkenal. Yaitu Mbok Berek dan Ny. Suharti. Rumah makan Padang misalnya, yang terkenal barangkali cuma ada 2-3 buah. Jadi peluang usahanya besar sekali. Nasi uduk misalnya, di Malaysia mudah mencari restoran yang khusus menyajikan nasi uduk (nasi lemak). Kalau di Jakarta, kita hanya menemukan nasi uduk di emperan saja. Belum ada restoran khas nasi uduk. Soto tangkar ala Betawi misalnya, sudah mulai punah, dan sulit dicari. Padahal penggemarnya cukup banyak. Rumah makan soto di Jakarta, kebanyakan impor soto dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketupat sayur dan Lontong Cap-Go-Meh ala Betawi, juga semakin sulit dicari. Kebanyakan hanya bisa dibeli ditempat-tempat tertentu. Resepnya juga banyak yang tidak asli lagi. Nasi ulam dan Nasi Langi yang terkenal ketika saya masih SD, kini sudah sulit dicari.

Makanan-makanan langka di atas, bisa menjadi ide awal memulai bisnis resto keluarga. Kini tinggal Anda mencari resep aslinya. Membuatnya mudah sekali. Lalu Anda tekuni. Banyak latihan, hingga mahir benar. Hingga menemukan campuran resep yang paling pas. Nah, Anda akan siap berbisnis. Mulai saja dari rumah. Dalam 2-3 tahun, Anda akan melihat keajaibannya. Tanpa terasa, bisnis Anda akan berkembang. Besar. Dan bisa menjadi jaringan resto terkenal. Selamat mencoba !

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA