|
TANYA
(T): Apakah membuka usaha roti memang
cita-cita Anda sejak dulu?
JAWAB (J): Oh,
tidak. Awalnya justru yang mengajak adalah adik saya. Kebetulan
sekitar tahun 1987 itu usahanya goncang. Ia mengajak saya membuka
usaha. Lantas suami saya, kini sudah almarhum, menyarankan saya
untuk membuka usaha roti. Soalnya ibunya juga punya usaha bakeri
di Bandung. Saya sendiri sebelumnya, kan, pegang katering
Departemen Keuangan. Jadi, tidak terlalu asinglah.
Kenapa,
kok, dinamakan Yurike?
Yurike adalah nama
anak adik saya. Tetapi sekarang dia sudah tidak bergabung lagi
bersama saya. Ceritanya dulu itu kami memproduksi roti yang
harganya relatif tinggi. Ya, untuk konsumsi kelas menengah atas.
Ternyata kendala tidak kurang-kurang.
Apa
saja kendalanya?
Banyak. Salah
satunya, roti saya dibawa kabur penjualnya lengkap bersama
gerobaknya. Mana modal saya juga minim. Roti produksi saya juga
kurang laku di pasaran. Mungkin karena terlalu mahal. Dulu
harganya Rp 300, kalau sekarang mungkin sekitar Rp 2.000.
Meski
banyak kendala, Anda tak langsung menyerah, kan?
Belum. Tetapi adik
saya langsung mundur. Salah seorang penjual menyarankan membuat
roti murah, yaitu roti warungan yang harga jualnya Rp 100. Setahun
kemudian saya mencoba mewujudkan saran itu. Alhamdulillah banyak
orang mau menjadi penjual saya. Bahkan penjual dari perusahaan
roti lain.
Berapa
harga rotinya?
Dari saya cuma Rp
60. Penjual memberi Rp 80 kepada warung. Sedang warung menjual
dengan harga Rp 100. Agak berat sebetulnya. Sebab harga segitu
sudah termasuk plastik pembungkus.
Tetapi
harga Rp 60 itu sudah mendapat untung?
Ya, karena lakunya
luar biasa. Waktu membuat roti mahal saya cuma menggunakan 1 atau
2 bal terigu sekali produksi. Saat itu sampai 5 bal. Satu bal 22
kilogram. Jadi, cukup besar.
Bagaimana
usaha Anda terus berkembang?
Ya, pokoknya
berjalan begitu saja. Tahu-tahu sudah 13 bal. Sampai-sampai saya
harus membungkus roti sampai pukul 2 pagi. Habis, tukang roti,
kan, tahunya saat mereka mengambil harus sudah tersedia. Begitu
banyaknya roti yang saya buat, sampai rumah tidak muat rasanya.
Itulah sebabnya saya lantas membeli rumah BTN untuk tempat
produksi.
Tapi
sekarang pabrik roti Anda tidak di situ?
Ya, di situ banyak
kendala. Tetangga mengeluh perusahaan roti saya mengganggu mereka
karena berisik. Saya, sih, mencoba tetap bertahan. Tapi, toh,
setelah 2 tahun saya menyerah. Pasalnya, suatu hari ketika suami
saya dinas ke Gresik, saya didatangi 5 orang bodyguard,
pukul 3 pagi. Waduh, takutnya saya bukan main. Saya sudah lemas
saat itu. Alasan mereka mau lihat surat-surat pabrik. Untunglah
ada satpam yang lewat.
Kebetulan pula
surat-surat saya komplet. Rumah saya pun sering dilempari batu.
Akhirnya saya putuskan untuk mengontrak rumah di depan rumah saya.
Di
situ Anda membangun pabrik?
Ah, jangan bilang
pabrik, terlalu jelek. Itu pun saya bangun dengan bantuan kredit
dari City Bank. Uang itu untuk mendirikan bangunan, modal, kontrak
tanah selama 10 tahun. Nanti tahun 2001 berakhir.
Usaha
Anda melaju juga di situ?
Wah, bukan main.
Saat itu saya bisa menghabiskan 50 - 60 bal terigu sehari. Itu
berarti saya memproduksi 36 ribu roti sehari. Mulai dari roti
cokelat, keju, kacang, moka, dan kelapa.
Luar
biasa ya, Bu, produksi roti naik, kendala pun hampir tak ada.
Kendala boleh
dibilang tidak ada. Bahkan gerobak roti sudah diganti dengan
sepeda motor agar lebih praktis. Motor ini boleh dicicil oleh
penjual saya sampai lunas dan menjadi hak milik mereka. Jadi
sama-sama enak. Apalagi cicilannya semampu mereka. Namun awal
tahun 1997. Badai krismon datang. Harga terigu 1 bal yang tadinya
Rp 27.500 naik jadi Rp 80 ribu. Mau tak mau harga roti harus naik.
Tetapi ketika rotinya saya naikkan Rp 500, pedagang tak mau. Saya
kecilkan ukuran rotinya dan menjualnya jadi Rp 300, tetap saja
pedagang menolak. Akhirnya saya menutup usaha.
Sempat
berapa lama Anda menutup usaha Anda?
Hanya 2 bulan. Atas
saran penjual, saya kembali berproduksi. Harga dari saya Rp 300.
Pedagang menjualnya Rp 400, sedang warung Rp 500. Sekarang malah
pedagang kembali minta turun. Saya, sih, tidak menyalakan mereka.
Di sini memang terjadi
persaingan yang tidak sehat. Sesama pengusaha roti saling
menjatuhkan. Sebenarnya perusahaan roti di Bekasi sudah memiliki
kesepakatan harga roti harus Rp 300. Tetapi ada saja yang menjual
270, 280. Beda 10 rupiah saja, kan, sudah berarti. Coba kalau
1.000 roti saja sudah Rp 10 ribu untungnya. Ini yang membuat kita
jadi berat untuk memproduksi roti.
Jadi,
sekarang produksi Anda tinggal berapa?
Sekarang mencapai
10-15 bal. Ya, sekitar 5.000-6.000 roti. Membuatnya terkadang
setiap hari atau selang satu hari, tergantung pesanan saja. Dulu
ketika masih jaya, membuat 30 bal saja saya malas. Sombong, kan?
Sekarang 10 bal saja langsung saya buat. Soalnya, kasihan dengan
karyawan saya.
Berapa
karyawan Anda sekarang?
Yang membuat roti
sekitar 15 orang. Sedangkan penjualnya tinggal 25 orang. Dulunya
saya punya motor mencapai 40. Tapi sekarang ada yang pergi dengan
motornya, ada yang pulang kampung sambil bawa motor, lalu uang
sisa kredit belum dilunasi. Tapi ya saya pikir, daripada disusul
terus kita lihat keadaan mereka ternyata menyedihkan, kan kita
jadi tak tega, malah habis ongkos nantinya.
Tidak
takut dicontoh karyawan lain?
Memang, sih, ada
saja karyawan yang bilang, "Ah saya juga mau lari bawa motor.
Toh, Ibu nggak nyari," ungkap mereka. Mungkin
mereka bercanda ya. Tetapi saya bilang, "Kalau Ibu, sih,
tidak apa-apa, tapi ingat yang di atas, lo." Tetapi saya
yakin mereka cuma bercanda, soalnya mereka yang bertahan mengambil
roti saya adalah pedagang yang setia sama saya. Kadang-kadang
mereka mengeluh ke saya jika dagangannya tidak habis.
Kalau
dagangannya tidak habis bagaimana?
Dijajakan lagi
keesokannya sampai habis. Saya sendiri, sih, maklum. Bagaimanapun
roti saya kelasnya pangsa bawah. Jadi, kalau pembeli punya anak 5,
ia harus membeli 5 buah roti. Artinya harus mengeluarkan uang Rp
2.500. Buat mereka uang sebesar itu lebih baik dibelikan beras
untuk makan. Dengan sayur asem dan ikan asin, sudah bisa makan
buat sekeluarga.
Apakah
ada anak-anak yang terlibat dengan usaha Anda?
Sepertinya tidak
ada. Mungkin dipikirnya kotor, nggak bonafid atau apalah.
Dulu saya sering bilang sama anak-anak supaya belajar yang pintar,
jangan kayak saya yang bodoh. Tapi almarhum suami bilang,
"Mama memang bodo, tapi gaji mama lebih besar dari
insinyur," Ha..ha..ha...
Suami saya memang suka menyenangkan hati saya.
Tapi
usaha Anda, kan, tidak bangkrut. Kalau soal menurun, kan, hampir
semua orang juga kena krismon.
Betul, toh, saya
sudah balik modal. Bahkan bisa pindah ke rumah yang lebih besar
plus kredit mobil. Tapi usaha roti saya nilai tidak berkembang.
Ya, pengusaha roti juga, kan, bertambah. Dulu ketika saya baru
memulai usaha, baru ada 3 pengusaha roti. Sekarang rasanya di
setiap pelosok Bekasi (Yurike Bakery terletak di kawasan Bekasi)
ada usaha roti.
Anda
tidak putus asa, kan?
Oh, tidak. Saya
ikuti dan jalani saja sampai titik darah yang penghabisan
ha...ha...ha... Anak-anak, sih, sudah menanyakan kalau kontak
habis tahun 2001 nanti, diperpanjang atau tidak. Saya pribadi
ingin memperpanjang dan terus memproduksi roti. Soalnya sayang
bangunan dan listrik 10 ribu watt yang sudah saya pasang.
Kalau
sampai tutup, apa rencana Anda?
Oh, saya tidak
terlalu khawatir. Soalnya sekarang juga saya kadang menerima
pesanan masakan. Misalnya, ada tetangga yang meminta dibuatkan
pepes ikan mas, saya buat 25 kilogram pun habis. Kadang juga ada
yang memesan sup buntut. Rasa sup buntut saya lebih oke dari Hotel
berbintang, lo. Tetapi kalau saya sering menerima pesanan masakan
juga takut dimarahi Inne, anak saya (maksudnya Inneke
Koesherawati, artis sinetron, RED.)
Oh,
dia tidak setuju?
Membuat roti saja,
saya sering didiemin Inne. Dia khawatir saya capek dan
sakit. Tapi dalam hidup, manusia pasti ingin melakukan banyak hal.
Anda
merasa tak enak jika tidak melakukan aktivitas?
Betul. Kegiatan
saya memang padat. Saya nggak bisa disuruh diam di rumah
tanpa melakukan apa-apa. Tetangga saya saja kadang suka sebel
karena sulit mencari saya di rumah. Kadang saya main voli, kadang
ikut latihan SN (Satria Nusantara, RED.), dan pengajian. Saya juga
sadar sudah 52 tahun. Suatu saat saya tidak bisa lagi main voli
atau ikut SN. Nah, kalau usaha roti saya juga terhenti, apa
kegiatan saya kelak?
sdp@Miftakh
Faried/foto : Veri
Valensi
|