Sedap Sekejap Edisi 2/I-Januari 2000

 

Pengusaha Roti Ny. Hj. Leni Koesherbimin

JATUH BANGUN DIHANTAM BERBAGAI KENDALA

Usaha rotinya tidak selalu berjalan mulus, namun tampaknya pemilik Yurike Bakery ini enggan mundur. Tak kurang dari teror tetangga, keberatan anak-anaknya, sampai krisis moneter yang melanda usahanya. Toh Ny. Hj. Leni Koesherbimin jalan terus.

"Kalau tak usaha, saya mau apa lagi," ujar ibu enam anak dan delapan cucu ini.

TANYA (T): Apakah membuka usaha roti memang cita-cita Anda sejak dulu?

JAWAB (J): Oh, tidak. Awalnya justru yang mengajak adalah adik saya. Kebetulan sekitar tahun 1987 itu usahanya goncang. Ia mengajak saya membuka usaha. Lantas suami saya, kini sudah almarhum, menyarankan saya untuk membuka usaha roti. Soalnya ibunya juga punya usaha bakeri di Bandung. Saya sendiri sebelumnya, kan, pegang katering Departemen Keuangan. Jadi, tidak terlalu asinglah.

Kenapa, kok, dinamakan Yurike?

Yurike adalah nama anak adik saya. Tetapi sekarang dia sudah tidak bergabung lagi bersama saya. Ceritanya dulu itu kami memproduksi roti yang harganya relatif tinggi. Ya, untuk konsumsi kelas menengah atas. Ternyata kendala tidak kurang-kurang.

Apa saja kendalanya?

Banyak. Salah satunya, roti saya dibawa kabur penjualnya lengkap bersama gerobaknya. Mana modal saya juga minim. Roti produksi saya juga kurang laku di pasaran. Mungkin karena terlalu mahal. Dulu harganya Rp 300, kalau sekarang mungkin sekitar Rp 2.000.

Meski banyak kendala, Anda tak langsung menyerah, kan?

Belum. Tetapi adik saya langsung mundur. Salah seorang penjual menyarankan membuat roti murah, yaitu roti warungan yang harga jualnya Rp 100. Setahun kemudian saya mencoba mewujudkan saran itu. Alhamdulillah banyak orang mau menjadi penjual saya. Bahkan penjual dari perusahaan roti lain.

Berapa harga rotinya?

Dari saya cuma Rp 60. Penjual memberi Rp 80 kepada warung. Sedang warung menjual dengan harga Rp 100. Agak berat sebetulnya. Sebab harga segitu sudah termasuk plastik pembungkus.

Tetapi harga Rp 60 itu sudah mendapat untung?

Ya, karena lakunya luar biasa. Waktu membuat roti mahal saya cuma menggunakan 1 atau 2 bal terigu sekali produksi. Saat itu sampai 5 bal. Satu bal 22 kilogram. Jadi, cukup besar.

Bagaimana usaha Anda terus berkembang?

Ya, pokoknya berjalan begitu saja. Tahu-tahu sudah 13 bal. Sampai-sampai saya harus membungkus roti sampai pukul 2 pagi. Habis, tukang roti, kan, tahunya saat mereka mengambil harus sudah tersedia. Begitu banyaknya roti yang saya buat, sampai rumah tidak muat rasanya. Itulah sebabnya saya lantas membeli rumah BTN untuk tempat produksi.

Tapi sekarang pabrik roti Anda tidak di situ?

Ya, di situ banyak kendala. Tetangga mengeluh perusahaan roti saya mengganggu mereka karena berisik. Saya, sih, mencoba tetap bertahan. Tapi, toh, setelah 2 tahun saya menyerah. Pasalnya, suatu hari ketika suami saya dinas ke Gresik, saya didatangi 5 orang bodyguard, pukul 3 pagi. Waduh, takutnya saya bukan main. Saya sudah lemas saat itu. Alasan mereka mau lihat surat-surat pabrik. Untunglah ada satpam yang lewat.

Kebetulan pula surat-surat saya komplet. Rumah saya pun sering dilempari batu. Akhirnya saya putuskan untuk mengontrak rumah di depan rumah saya.

Di situ Anda membangun pabrik?

Ah, jangan bilang pabrik, terlalu jelek. Itu pun saya bangun dengan bantuan kredit dari City Bank. Uang itu untuk mendirikan bangunan, modal, kontrak tanah selama 10 tahun. Nanti tahun 2001 berakhir.

Usaha Anda melaju juga di situ?

Wah, bukan main. Saat itu saya bisa menghabiskan 50 - 60 bal terigu sehari. Itu berarti saya memproduksi 36 ribu roti sehari. Mulai dari roti cokelat, keju, kacang, moka, dan kelapa.

Luar biasa ya, Bu, produksi roti naik, kendala pun hampir tak ada.

Kendala boleh dibilang tidak ada. Bahkan gerobak roti sudah diganti dengan sepeda motor agar lebih praktis. Motor ini boleh dicicil oleh penjual saya sampai lunas dan menjadi hak milik mereka. Jadi sama-sama enak. Apalagi cicilannya semampu mereka. Namun awal tahun 1997. Badai krismon datang. Harga terigu 1 bal yang tadinya Rp 27.500 naik jadi Rp 80 ribu. Mau tak mau harga roti harus naik. Tetapi ketika rotinya saya naikkan Rp 500, pedagang tak mau. Saya kecilkan ukuran rotinya dan menjualnya jadi Rp 300, tetap saja pedagang menolak. Akhirnya saya menutup usaha.

Sempat berapa lama Anda menutup usaha Anda?

Hanya 2 bulan. Atas saran penjual, saya kembali berproduksi. Harga dari saya Rp 300. Pedagang menjualnya Rp 400, sedang warung Rp 500. Sekarang malah pedagang kembali minta turun. Saya, sih, tidak menyalakan mereka. Di sini memang terjadi persaingan yang tidak sehat. Sesama pengusaha roti saling menjatuhkan. Sebenarnya perusahaan roti di Bekasi sudah memiliki kesepakatan harga roti harus Rp 300. Tetapi ada saja yang menjual 270, 280. Beda 10 rupiah saja, kan, sudah berarti. Coba kalau 1.000 roti saja sudah Rp 10 ribu untungnya. Ini yang membuat kita jadi berat untuk memproduksi roti.

Jadi, sekarang produksi Anda tinggal berapa?

Sekarang mencapai 10-15 bal. Ya, sekitar 5.000-6.000 roti. Membuatnya terkadang setiap hari atau selang satu hari, tergantung pesanan saja. Dulu ketika masih jaya, membuat 30 bal saja saya malas. Sombong, kan? Sekarang 10 bal saja langsung saya buat. Soalnya, kasihan dengan karyawan saya.

Berapa karyawan Anda sekarang?

Yang membuat roti sekitar 15 orang. Sedangkan penjualnya tinggal 25 orang. Dulunya saya punya motor mencapai 40. Tapi sekarang ada yang pergi dengan motornya, ada yang pulang kampung sambil bawa motor, lalu uang sisa kredit belum dilunasi. Tapi ya saya pikir, daripada disusul terus kita lihat keadaan mereka ternyata menyedihkan, kan kita jadi tak tega, malah habis ongkos nantinya.

Tidak takut dicontoh karyawan lain?

Memang, sih, ada saja karyawan yang bilang, "Ah saya juga mau lari bawa motor. Toh, Ibu nggak nyari," ungkap mereka. Mungkin mereka bercanda ya. Tetapi saya bilang, "Kalau Ibu, sih, tidak apa-apa, tapi ingat yang di atas, lo." Tetapi saya yakin mereka cuma bercanda, soalnya mereka yang bertahan mengambil roti saya adalah pedagang yang setia sama saya. Kadang-kadang mereka mengeluh ke saya jika dagangannya tidak habis.

Kalau dagangannya tidak habis bagaimana?

Dijajakan lagi keesokannya sampai habis. Saya sendiri, sih, maklum. Bagaimanapun roti saya kelasnya pangsa bawah. Jadi, kalau pembeli punya anak 5, ia harus membeli 5 buah roti. Artinya harus mengeluarkan uang Rp 2.500. Buat mereka uang sebesar itu lebih baik dibelikan beras untuk makan. Dengan sayur asem dan ikan asin, sudah bisa makan buat sekeluarga.

Apakah ada anak-anak yang terlibat dengan usaha Anda?

Sepertinya tidak ada. Mungkin dipikirnya kotor, nggak bonafid atau apalah. Dulu saya sering bilang sama anak-anak supaya belajar yang pintar, jangan kayak saya yang bodoh. Tapi almarhum suami bilang, "Mama memang bodo, tapi gaji mama lebih besar dari insinyur," Ha..ha..ha... Suami saya memang suka menyenangkan hati saya.

Tapi usaha Anda, kan, tidak bangkrut. Kalau soal menurun, kan, hampir semua orang juga kena krismon.

Betul, toh, saya sudah balik modal. Bahkan bisa pindah ke rumah yang lebih besar plus kredit mobil. Tapi usaha roti saya nilai tidak berkembang. Ya, pengusaha roti juga, kan, bertambah. Dulu ketika saya baru memulai usaha, baru ada 3 pengusaha roti. Sekarang rasanya di setiap pelosok Bekasi (Yurike Bakery terletak di kawasan Bekasi) ada usaha roti.

Anda tidak putus asa, kan?

Oh, tidak. Saya ikuti dan jalani saja sampai titik darah yang penghabisan ha...ha...ha... Anak-anak, sih, sudah menanyakan kalau kontak habis tahun 2001 nanti, diperpanjang atau tidak. Saya pribadi ingin memperpanjang dan terus memproduksi roti. Soalnya sayang bangunan dan listrik 10 ribu watt yang sudah saya pasang.

Kalau sampai tutup, apa rencana Anda?

Oh, saya tidak terlalu khawatir. Soalnya sekarang juga saya kadang menerima pesanan masakan. Misalnya, ada tetangga yang meminta dibuatkan pepes ikan mas, saya buat 25 kilogram pun habis. Kadang juga ada yang memesan sup buntut. Rasa sup buntut saya lebih oke dari Hotel berbintang, lo. Tetapi kalau saya sering menerima pesanan masakan juga takut dimarahi Inne, anak saya (maksudnya Inneke Koesherawati, artis sinetron, RED.)

Oh, dia tidak setuju?

Membuat roti saja, saya sering didiemin Inne. Dia khawatir saya capek dan sakit. Tapi dalam hidup, manusia pasti ingin melakukan banyak hal.

Anda merasa tak enak jika tidak melakukan aktivitas?

Betul. Kegiatan saya memang padat. Saya nggak bisa disuruh diam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Tetangga saya saja kadang suka sebel karena sulit mencari saya di rumah. Kadang saya main voli, kadang ikut latihan SN (Satria Nusantara, RED.), dan pengajian. Saya juga sadar sudah 52 tahun. Suatu saat saya tidak bisa lagi main voli atau ikut SN. Nah, kalau usaha roti saya juga terhenti, apa kegiatan saya kelak?

sdp@Miftakh Faried/foto : Veri Valensi

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA