Sedap Sekejap
Edisi 3/I-Februari 2000

 

 

BOLEH TAMBAH GARAM?

Ibu Pengasuh yang baik,
Lebaran kemarin saya mendapat hadiah microwave dari suami. Wah, senangnya saya bukan kepalang. Tetapi begitu mau dipakai, banyak hal yang saya tidak mengerti. Contohnya, kalau saya masak, ditambah garam dulu atau tidak, sih? Jangan ditertawakan, ya, Bu, pertanyaan saya memang sedikit memalukan. Terima kasih.

Ny. Tri Murniasih - Jakarta Utara

Ibu Tri,
Selamat, ya, Bu. Betapa sayangnya suami Ibu pada Ibu. Tentu saja pertanyaan Ibu tidak memalukan. Bagaimanapun memasak di microwave bukan kebiasaan kita. Saya kira lebih baik bila membubuhi garam menjelang masakan matang. Kenapa begitu sebab garam membuat daging atau masakan kehilangan air. Akibatnya daging terasa keras karena kering. Begitu juga dengan sayuran. Sayuran yang airnya tidak banyak, nggak enak, kan? Nah, selamat ber-microwave ria, Bu.


MEMBEKUKAN MAKANAN KEMBALI

Ibu Pengasuh yang baik,
Senang sekali saya membaca tentang cara menyimpan makanan agar tahan lama. Cuma ada sedikit keraguan pada saya. Makanan yang sudah dicairkan setelah dibekukan, bolehkah dibekukan kembali. Terima kasih banyak atas jawaban Ibu.

Ny. Utami Saputra - Bandung

Ibu Utami di Kota Kembang,
Seperti pernah kami rinci dalam artikel tersebut, pencairan makanan beku sebaiknya dilakukan dalam lemari pendingin supaya tidak ada bakteri yang hinggap di situ dan membuat makanan jadi rusak. Kalau Anda sudah meletakkan makanan sekian jam di temperatur ruang sampai makanan itu mencair, tentu bakteri yang hinggap di situ pun sudah banyak sekali. Hingga disimpan dalam freezer pun bisa saja tidak kuat lagi. Karena itu saya tekankan kembali, makanan sebaiknya disimpan dalam kemasan kecil, sesuai kebutuhan kita. Misalnya, Anda memiliki 600 gram daging, sementara kebutuhan Anda sekeluarga hanya 200 gram daging. Nah, kemas daging dalam ukuran 200 gram. Hingga ketika dicairkan, tidak perlu dicairkan 600 gram, tetapi cukup 200 gram saja.


MEREBUS TELUR DENGAN SUKSES

Ibu Pengasuh di tempat,
Merebus telur tampaknya sangat sepele, kan, Bu? Tetapi percayakah Ibu, telur rebus saya selalu saja ada "cacatnya". Nah, Ibu begini pertanyaan saya:

  • Bagaimana cara menghindari telur retak saat direbus?

  • Bisakah telur yang sudah retak, direbus juga?

  • Bagaimana agar kuning telur tetap di tengah saat direbus?

  • Apa yang harus dilakukan supaya kulit telur rebus mudah dibuka?

Pertanyaan saya memang banyak, Bu. Tetapi saya yakin kesulitan saya juga dialami banyak pembaca. Terima kasih.

Ny. Ari Sunarya- Jakarta Barat

Bu Ari,
Betul kata Ibu, merebus telur gampang-gampang sulit kalau mau hasilnya prima. Misalnya saja, merebus telur tanpa retak, sungguh sulit menjawabnya karena kadang sudah kita lakukan berbagai cara pun, masih saja retak. Tetapi ada beberapa teori yang mungkin bisa Ibu coba. Pertama, tusuk dengan jarum halus kulit telur. Hati-hati, lo, Bu, jangan terlalu besar, nanti malah telurnya mengalir keluar. Kedua, masukkan telur setelah air panas, bukan ketika air masih dingin.

Telur yang retak bisa direbus juga, tetapi bungkus dulu dengan aluminium foil.Kuning telur bisa tetap di tengah bila Ibu mengikuti cara berikut. Selama 3 menit pertama perebusan, aduk terus telur. Supaya kulit telur mudah dibuka, tambahkan 1 sendok teh cuka ke dalam air rebusan. Nah, mudah-mudahan setelah itu Ibu bisa merebus telur dengan sukses seperti harapan Ibu.

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA