Sedap Sekejap Edisi 4/I-Maret 2000

 


 Mencicipi Jajanan Bandung

Antara Yang Tradisional dan Yang Modern

 

 

ES CENDOL ELIZABETH
Awalnya  es  cendol  ini dijual berkeliling  di  pusat  kota Bandung, seperti Dago, Cigereleng, dan Dipatiukur. Tentu  namanya belum seperti sekarang. Nama es cendol Elizabeth ini baru digunakan  setelah tempat mangkalnya di jl. Otista, dibangun  toko  tas Elizabeth, tahun 1982.

"Dulu  saya bahkan menyediakan es cendol secara gratis  bagi setiap  pengunjung atau rombongan yang datang ke  toko  Elizabeth setiap hari Sabtu dan Minggu," kenang Rohman (39) sang pemilik. Tetapi teknik dagang seperti itu diubahnya sejak tahun 1985. Kini  cendolnya bisa dinikmati dengan harga Rp. 1.000. Meski  tak menyebut  berapa gelas per hari yang berhasil  dijualnya,  tetapi dari  jumlah bahan yang digunakan, kita bisa melihat  cendol  ini laku keras.
Setiap hari Rohman menghabiskan sekitar 25 kg tepung beras,  25  tepung  sagu, dan 200 butir  kelapa  untuk  dijadikan santan. Ia  juga sering kewalahan menerima pesanan untuk pesta  perkawinan. "Anak buah saya hanya 15 orang. Jadi, kalau ada 19 orang yang  pesan  untuk pesta kawin, misalnya, yang  4  terpaksa  saya tolak."

COLENAK MURDI
Colenak  termasuk jajanan khas Bandung yang masih  bertahan. Colenak Murdi yang terletak di jl. Ahmad Yani di kawasan  Cicadas ini, misalnya, sudah berdiri sejak tahun 30-an. "Murdi nama kakek saya,"  ujar  Rajak  (67) yang memegang usaha  turunan  ini  dari ayahnya.
Colenak terdiri atas peuyeum (tape singkong) yang dibakar kemudian dinikmati dengan saus yang terbuat dari parutan kelapa dan gula merah. Bedanya dengan colenak yang dijual biasa, colenak Murdi menggunakan esens durian. "Itu digunakan sejak tahun '67. Alhamdulillah banyak yang suka," ujar Rajak.

Sehari   Murdi  menghabiskan  50  -  70   kilogram   peuyeum Cimenyan. "Sayang sekarang makin sulit didapat. Maklumlah  daerah Cimenyan  kini  dijadikan perumahan. Padahal di  situ  peuyeumnya enak.  Kualitas peuyeum juga tergantung pada cuaca.  Kalau  musim kemarau,  peuyeum yang dihasilkan lebih enak dan padat  ketimbang waktu musim hujan," jelas Rojak.

Selain dipesan hotel-hotel besar di Bandung, colenak buatannya  juga sering dihidangkan dalam acara pertemuan  atau  resepsi pernikahan  sebagai  hidangan  tradisional.  "Colenak  juga  bisa dibawa  sebagai  oleh-oleh, lo.  Karena mampu bertahan  sampai  3 hari," kata Rajak.

 ANEKA KERIPIK

Mencari  keripik,  Karya  Umbil-lah  tempatnya.  Mulai  dari keripik  singkong,  gadung, ubi, sampai oncom dan  tempe  ada  di sana.  Toko  yang terletak di Jl. Cihampelas  ini  sudah  berdiri sejak tahun 1965. "Tetapi usaha keripiknya sendiri sudah dirintis sejak tahun 1947 oleh orang tua saya," ujar Valentinus (49).  

Jajanan ini tersedia dalam kemasan 2 ons atau 1/4 kg  dengan harga antara Rp. 4.000 hingga Rp. 14.000 per bungkus. Produksi  keripik  ini tidak dibuat di satu  tempat,  tetapi terpencar di rumah saudara-saudaranya. "Ini memang home  industry keluarga.  Jadi saudara-saudara membuat makanan di rumah  masing-masing sebelum disetor ke jl. Cihampelas untuk dipak atau dibungkus  dengan  kemasan Karya Umbi," jelas  Valentinus. Selain  keripik, di Karya Umbi juga dijual  aneka  oleh-oleh khas  Bandung  lain  seperti dodol tasik, sale pisang,  dan  opak ketan.  "Penganan  tersebut  adalah titipan.  Makanya  tidak  diberi merek kami," tutur dosen di Fakultas Hukum UNPAD ini.

 ULI BAKAR
Selain susu dan ayam, uli (ketan) bakar juga jadi favorit di Lembang. Pedagang uli bakar berderet di sisi kiri jalan Lembang, sedangkan warung makan di sebelah kanan jalan. "Sudah sejak tahun '70 saya berjualan," ungkap Acep (51) yang mangkal di seberang Ayam Brebes. Usaha ini diwarisinya dari ibunya yang dulu berdagang ketan serta aneka makanan di pasar Lembang.

Ketan bakar yang diiris kotak ini biasanya dihidangkan dua cara, manis atau pedas. Jika manis bisa dicocolkan pada gula yang bercampur kelapa sangrai, sedangkan yang pedas dinikmati dengan sambal oncom. "Sepotong uli bakar dijual Rp. 1.250," ujar Acep yang  menghabiskan  5 liter beras ketan setiap harinya. Makan satu  rasanya kurang  puas dalam dinginnya udara Lembang. Apalagi  malam  hari. Dijamin perut akan selalu minta diisi. Selain  ketan  bakar,  ia juga  menyediakan  minuman  hangat lainnya  seperti  bandrek dan bajigur yang dijual Rp.  1.000  per gelasnya.  "Soalnya  ketan  bakar paling  enak  dinikmati  dengan minuman  panas  seperti  bandrek atau  bajigur.  Apalagi  Lembang sangat  dingin,"  paparnya. Ia berjualan 24 jam  setiap  harinya, bergantian dangan kakaknya.

SATE KELINCI
Beberapa ratus meter sebelum atau sesudah menikmati uli bakar atau susu murni, tepatnya di Kampung Batu Reok, Anda akan menemukan  warung-warung sederhana yang menawarkan sate  kelinci. "Rata-rata  warung di sini sudah berjualan lebih dari  2  tahun," ujar Trisna (41) salah seorang pemilik warung.

Sate kelinci diambil dari kelinci yang berumur 4-6 bulan. "Dagingnya empuk dan manis," terangnya. Sate ini dihidangkan dengan  bumbu kacang atau bumbu kecap dengan irisan cabai  kecil. Harganya Rp.6.000 per  10 tusuk. Uniknya, pembeli bisa memilih sendiri kelincinya sejak masih hidup.  "Makanya dagingnya pun segar. Selain itu pembeli  percaya sate  ini betul-betul terbuat dari daging kelinci,  bukan  ayam," tutur  Trisna.

Selain sate, tersedia juga gule dan rendang kelinci  seharga Rp.  3.500 per porsi. Khusus untuk menu ini dipilih dari  kelinci yang berumur 3 bulan. "Supaya dagingnya empuk," ujar Trisna  yang berjualan  sejak sore hingga tengah malam setiap  harinya.  Dalam satu hari, ia menyediakan 20-30 ekor kelinci untuk membuat ketiga menu tersebut. "Untuk sate, satu ekor bisa menjadi 60-90  tusuk," jelasnya.

Beternak kelinci menjadi andalan hampir sebagian besar penduduk di sini. Selain murah, beternaknya juga mudah. "Dalam 6 bulan saja, kita sudah bisa memperoleh hasilnya," jelasnya. Selain itu, kulit kelinci laku dijual sebagai bahan untuk kerajinan.Harga kulitnya bisa mencapai Rp. 1.500 per ekor.  Bahkan, lanjut Trisna, air seni kelinci juga laku dijual Rp. 25  ribu  per  botol.  "Orang-orang  membelinya  untuk  dijadikan pupuk."

MARTABAK SAN FRANSISCO
Martabak San Fransisco termasuk warung martabak yang  diburu oleh  para  penggemar martabak. Kurang  jelas  mengapa  dinamakan begitu. "Saya sendiri juga cuma meneruskan usaha ini sejak  tahun 80-an. Jadi tak tahu asal-usulnya," ujar Maman (46).

Martabak  San  Fransisco tersedia dalam  tiga  rasa,  daging ayam, sapi, dan kornet. Pembeli juga bisa memilih yang biasa atau spesial.  Harganya Rp. 15 ribu untuk yagn biasa sedang yang  spesial harganya Rp. 18 ribu. "Yang  biasa  memakai 2 telur, yang  spesial  menggunakan  3 telur.  Telurnya telur ayam negeri," ujar Maman.

Di warungnya yang buka sejak jam 4 sore hingga 11 malam ini, ia  bisa  menjual  sekitar 100 martabak  dalam  sehari.  "Sebelum krisis  bisa mencapai 200 lebih," tambah Maman  yang  membutuhkan sekitar 1 kwintal bawang daun sehari ini. Di tempatnya berjualan, selain martabak telor juga  tersedia makanan  lain seperti martabak manis, nasi rames, ayam  panggang, dan pempek.

lanjut>>

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA