![]()
Sedap Sekejap Edisi
4/I-Maret 2000
Mencicipi
Jajanan Bandung
Antara Yang Tradisional dan Yang Modern
|
ES
CENDOL ELIZABETH "Dulu
saya bahkan menyediakan es cendol secara gratis
bagi setiap pengunjung
atau rombongan yang datang ke toko
Elizabeth setiap hari Sabtu dan Minggu," kenang Rohman (39)
sang pemilik. COLENAK
MURDI Sehari
Murdi menghabiskan
50 -
70 kilogram
peuyeum Cimenyan. "Sayang sekarang makin sulit didapat.
Maklumlah daerah Cimenyan
kini dijadikan perumahan. Padahal di
situ peuyeumnya enak.
Kualitas peuyeum juga tergantung pada cuaca.
Kalau musim kemarau, peuyeum
yang dihasilkan lebih enak dan padat
ketimbang waktu musim hujan," jelas Rojak. Selain
dipesan hotel-hotel besar di Bandung, colenak buatannya
juga sering dihidangkan dalam acara pertemuan
atau resepsi
pernikahan sebagai hidangan
tradisional. "Colenak juga
bisa dibawa sebagai
oleh-oleh, lo. Karena
mampu bertahan sampai
3 ANEKA
KERIPIK
Jajanan
ini tersedia dalam kemasan 2 ons atau 1/4 kg
dengan harga antara Rp. 4.000 hingga Rp. 14.000 per bungkus.
Produksi keripik
ini tidak dibuat di satu tempat,
tetapi terpencar di rumah saudara-saudaranya. "Ini memang home industry keluarga. Jadi
saudara-saudara membuat makanan di rumah
masing-masing sebelum disetor ke jl. Cihampelas untuk dipak atau
dibungkus dengan
kemasan Karya Umbi," jelas
Valentinus. ULI
BAKAR Ketan
bakar yang diiris kotak ini biasanya dihidangkan dua cara, manis atau
pedas. Jika manis bisa dicocolkan pada gula yang bercampur kelapa sangrai,
sedangkan yang pedas dinikmati dengan sambal oncom. "Sepotong uli
bakar dijual Rp. 1.250," ujar Acep yang menghabiskan 5
liter beras ketan setiap harinya. Makan satu
rasanya kurang puas
dalam dinginnya udara Lembang. Apalagi
malam hari. Dijamin
perut akan selalu minta diisi. SATE
KELINCI Sate
kelinci diambil dari kelinci yang berumur 4-6 bulan. "Dagingnya empuk
dan manis," terangnya. Sate ini dihidangkan dengan bumbu kacang atau bumbu kecap dengan irisan cabai
kecil. Harganya Rp.6.000 per 10
tusuk. Uniknya, pembeli bisa memilih sendiri kelincinya sejak masih hidup.
"Makanya dagingnya pun segar. Selain itu pembeli
percaya sate ini
betul-betul terbuat dari daging kelinci,
bukan ayam,"
tutur Trisna. Selain
sate, tersedia juga gule dan rendang kelinci
seharga Rp. 3.500 per
porsi. Khusus untuk menu ini dipilih dari
kelinci yang berumur 3 bulan. "Supaya dagingnya empuk,"
ujar Trisna yang berjualan
sejak sore hingga tengah malam setiap
harinya. Dalam satu
hari, ia menyediakan 20-30 ekor kelinci untuk membuat ketiga menu
tersebut. "Untuk sate, satu ekor bisa menjadi 60-90
tusuk," jelasnya. Beternak kelinci menjadi andalan hampir sebagian besar penduduk di sini. Selain murah, beternaknya juga mudah. "Dalam 6 bulan saja, kita sudah bisa memperoleh hasilnya," jelasnya. Selain itu, kulit kelinci laku dijual sebagai bahan untuk kerajinan.Harga kulitnya bisa mencapai Rp. 1.500 per ekor. Bahkan, lanjut Trisna, air seni kelinci juga laku dijual Rp. 25 ribu per botol. "Orang-orang membelinya untuk dijadikan pupuk." MARTABAK
SAN FRANSISCO Martabak
San Fransisco tersedia
dalam tiga
rasa, daging ayam,
sapi, dan kornet. Pembeli juga bisa memilih yang biasa atau spesial.
Harganya Rp. 15 ribu untuk yagn biasa sedang yang
spesial harganya Rp. 18 ribu. Di
warungnya yang buka sejak jam 4 sore hingga 11 malam ini, ia
bisa menjual
sekitar 100 martabak dalam
sehari. "Sebelum
krisis bisa mencapai 200
lebih," tambah Maman yang
membutuhkan sekitar 1 kwintal bawang daun sehari ini. Di tempatnya
berjualan, selain martabak telor juga tersedia makanan lain
seperti martabak manis, nasi rames, ayam
panggang, dan pempek. |
Hidangan
Utama l
Icip-icip
l Hidangan
Sebulan l
Masuk
Dapur l
Koki
Cilik l
Reka
l Jumpa
Pakar l
Manca
Kuliner
Seputar
Kuliner l
Varia
Kuliner l
Pernik
Cantik l
Konsultasi
Gizi l
Resto
Ke Resto l
Silaturahmi
l Kosa
Kuliner
Dapur Gaya
l Sajian
Mendatang l
Ulas Bahan l
Kreatif l
Kunjungan l
Managemen
Coretan
Redaksi l
Sajian
Pembaca l
Uji
Saji l Konsultasi
Kuliner l
Anda
dan Kami
Jalan-Jalan
l Sehat
l Artikel
l Teknopangan