Sedap Sekejap
Edisi 4/I-Maret 2000

 

 

KURANG HARUM

Pengasuh yang terhormat,
Saya sekeluarga berasal dari Sumatera. Sudah bisa Ibu bayangkan, kan, makanan kesukaan kami? Kami senang sekali dengan hidangan yang banyak rempah-rempahnya. Tetapi, kok, saya tidak sepandai ibu saya yang kalau membuat masakan itu, keharuman rempahnya terasa sekali. Sudah saya perbanyak jumlah rempahnya, eh, hasilnya malah pahit. Saya bingung sekali karena suami saya termasuk orang yang dimanja ibunya dalam hal makan. Jadi, saya agak frustrasi juga setiap memasakannya hidangan.

Nurlela Samin - Jakarta Utara

Bu Lela di Jakarta Utara,
Wah...wah...wah kalau masak sambil merasa tertekan bagaimana bisa enak hasilnya, Bu? Untuk menghasilkan masakan enak itu, Bu, tak cuma resep yang andal, lo. Ketenangan pikiran juga perlu, lo, Bu. Supaya kita tidak menambahkan garam dua kali atau menambahkan garam padahal seharusnya gula. Sayang sekali Ibu tidak menyebutkan masakan apa saja kegemaran keluarga Anda. Karena itu saya menjawabnya secara umum saja. Jumlah rempah sebaiknya diikuti berdasar resep atau pengalaman (kalau tidak punya resep) karena rempah-rempah atau bumbu dedaunan, kan, sebetulnya ada pahit-pahitnya, Bu. Jadi, bisa Ibu bayangkan kalau Ibu menambahkan banyak biji pala atau jahe. Nggak karuan pasti rasanya.

Supaya bumbu meresap, Ibu bisa me-marinated dulu daging, ayam, ikan, atau tahu yang akan dimasak. Cara lain, masak bahan makanan di atas api kecil supaya bumbu betul-betul bisa menyerap dalam hidangan. Kalau pengalaman orang tua saya dulu, supaya bumbu meresap, makanan tidak disajikan seusai memasak, tetapi diinapkan dulu dalam lemari pendingin. Keesokan hari masakan jadi lebih harum karena terendam di bumbu dalam waktu lama. Nah, cara mana yang Ibu pilih?


ADONAN ROTI BERLEBIH

Ibu Pengasuh yang terhormat,
Sesuai anjuran Sedap Sekejap saya sudah mulai berjualan roti. Lumayan, lo, Bu. Bukan cuma tetangga kanan kiri yang beli. Tetangga dari RT lain juga sudah mulai menelepon saya. Sayangnya modal saya minim sekali, Bu. Sampai-sampai semuanya dari belanja, mengadoni, memanggang, sampai mengantar roti, ya, saya yang harus melakukan. Padahal pesanan roti saya kian hari kian banyak. Saya memang harus berterima kasih pada Sedap Sekejap. Bertahun-tahun saya mencoba resep roti dari berbagai majalah, kok ya, tidak ada yang selezat buatan Sedap Sekejap.
Bagaimana cara mengatasi pesanan mendadak? Selama ini saya tolak karena tidak terpegang. Terima kasih.

Ny. Erika Subandrio - Yogyakarta

Ibu Erika di Yogya,
Kami di Redaksi tersipu-sipu membaca pujian Ibu. Mungkin kita memang berjodoh, Bu. Syukur kalau roti kami bisa Ibu manfaatkan sebagai penghasilan tambahan. Apalagi sampai Ibu kewalahan menerima pesanan.

Begini, Bu, kalau sedang senggang (Ibu bilang hari Sabtu dan Minggu "pabrik" tutup?), nah, cobalah Ibu menyetok adonan. Caranya, adonan yang sudah difermentasi satu kali itu, Ibu tekan-tekan sampai mengempis lalu bungkus dalam plastic wrapped dan masukkan dalam wadah kedap udara. Masukkan wadah ini dalam freezer. Setelah itu adonan roti siap digunakan setiap saat. Jadi kalau Ibu mendapat tambahan pesanan tak perlu lagi ditolak karena Ibu tinggal mengeluarkan adonan roti. Membiarkannya sampai cukup empuk (kira-kira 3 - 4 jam) lalu membentuknya dan mengistirahatkannya kembali sekitar 20 menit. Setelah itu roti siap dioven. Sementara menunggu roti kembali empuk, Ibu bisa mengerjakan pesanan rutin. Praktis, kan?


SPAGETI BAGI VEGETARIAN

Ibu Pengasuh yang terhormat,   
Suami saya menderita kanker dan dianjurkan dokter untuk menghindari daging. Karena itu ia memutuskan makan dengan pola vegetarian. Yang susah, kan, saya, ya Bu. Untuk anak-anak harus tetap menyediakan daging, sementara untuk suami tanpa daging. Yang paling sulit pula masakan tanpa daging seringnya tidak enak. Suami saya selalu marah-marah kalau masakannya tidak enak. Ibu, suami saya amat gemar makan spageti. Nah, bagaimana saya bisa buat saus yang enak kalau tidak pakai daging? Terima kasih.

Ny. Ratri Widodo - Jakarta Pusat

Ibu Ratri yang sedang bersedih,
Namanya saja cobaan, Bu, kalau dijadikan beban, mah rasanya bertambah berat. Semua orang sakit pasti merasa tertekan. Percaya, deh, suami Ibu marah-marah bukan karena masakan Ibu kurang sedap, tetapi karena cobaan yang tengah ia derita. Ribuan orang di Jakarta jadi pengikut vegetarian, tetapi bisa menikmati hidangannya dengan enak. Jadi, tidak betul kalau dikatakan masakan tanpa daging tidak enak. Yang penting, bagaimana cara memvariasikannya agar tidak membosankan. Untuk saus spageti, misalnya, mengapa Ibu tidak membuat saus gaya oriental. Tentu minus daging-dagingan. Bumbunya, sih, biasa, Tapi Ibu tambahkan 1 sendok teh saus tiram pada tiap porsi saus. Sebagai pengganti daging Ibu bisa memakai tahu (kukus dulu supaya baunya hilang). Kalau Bapak senang yang gurih-gurih, tambahkan saja beberapa butir kacang mete yang dicincang kasar.

Bumbu, cabai, rempah-rempah, atau bumbu dedaunan juga bisa dipakai sebagai jalan keluar sebagai raibnya daging dari hidangan. Nah, selamat berjuang.

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA