|
KURANG
HARUM
Pengasuh
yang terhormat,
Saya sekeluarga berasal dari Sumatera. Sudah bisa Ibu bayangkan,
kan, makanan kesukaan kami? Kami senang sekali dengan hidangan
yang banyak rempah-rempahnya. Tetapi, kok, saya tidak sepandai ibu
saya yang kalau membuat masakan itu, keharuman rempahnya terasa
sekali. Sudah saya perbanyak jumlah rempahnya, eh, hasilnya malah
pahit. Saya bingung sekali karena suami saya termasuk orang yang
dimanja ibunya dalam hal makan. Jadi, saya agak frustrasi juga
setiap memasakannya hidangan.
Nurlela
Samin - Jakarta Utara
Bu
Lela di Jakarta Utara,
Wah...wah...wah kalau masak sambil merasa tertekan bagaimana
bisa enak hasilnya, Bu? Untuk menghasilkan masakan enak itu, Bu,
tak cuma resep yang andal, lo. Ketenangan pikiran juga perlu, lo,
Bu. Supaya kita tidak menambahkan garam dua kali atau menambahkan
garam padahal seharusnya gula.
Sayang sekali Ibu tidak menyebutkan masakan apa saja kegemaran
keluarga Anda. Karena itu saya menjawabnya secara umum saja.
Jumlah rempah sebaiknya diikuti berdasar resep atau pengalaman
(kalau tidak punya resep) karena rempah-rempah atau bumbu
dedaunan, kan, sebetulnya ada pahit-pahitnya, Bu. Jadi, bisa Ibu
bayangkan kalau Ibu menambahkan banyak biji pala atau jahe. Nggak
karuan pasti rasanya.
Supaya
bumbu meresap, Ibu bisa me-marinated dulu daging, ayam, ikan, atau
tahu yang akan dimasak. Cara lain, masak bahan makanan di atas api
kecil supaya bumbu betul-betul bisa menyerap dalam hidangan. Kalau
pengalaman orang tua saya dulu, supaya bumbu meresap, makanan
tidak disajikan seusai memasak, tetapi diinapkan dulu dalam lemari
pendingin. Keesokan hari masakan jadi lebih harum karena terendam
di bumbu dalam waktu lama. Nah, cara mana yang Ibu pilih?
|
|
ADONAN
ROTI BERLEBIH
Ibu
Pengasuh yang terhormat,
Sesuai
anjuran Sedap Sekejap saya sudah mulai berjualan roti. Lumayan,
lo, Bu. Bukan cuma tetangga kanan kiri yang beli. Tetangga dari RT
lain juga sudah mulai menelepon saya. Sayangnya modal saya minim
sekali, Bu. Sampai-sampai semuanya dari belanja, mengadoni,
memanggang, sampai mengantar roti, ya, saya yang harus
melakukan. Padahal pesanan roti saya kian hari kian banyak. Saya
memang harus berterima kasih pada Sedap Sekejap. Bertahun-tahun
saya mencoba resep roti dari berbagai majalah, kok ya, tidak ada
yang selezat buatan Sedap Sekejap.
Bagaimana cara mengatasi pesanan mendadak? Selama ini saya tolak
karena tidak terpegang. Terima kasih.
Ny.
Erika Subandrio - Yogyakarta
Ibu
Erika di Yogya,
Kami
di Redaksi tersipu-sipu membaca pujian Ibu. Mungkin kita memang
berjodoh, Bu. Syukur kalau roti kami bisa Ibu manfaatkan sebagai
penghasilan tambahan. Apalagi sampai Ibu kewalahan menerima
pesanan.
Begini,
Bu, kalau sedang senggang (Ibu bilang hari Sabtu dan Minggu
"pabrik" tutup?), nah, cobalah Ibu menyetok adonan.
Caranya, adonan yang sudah difermentasi satu kali itu, Ibu
tekan-tekan sampai mengempis lalu bungkus dalam plastic wrapped
dan masukkan dalam wadah kedap udara. Masukkan wadah ini dalam
freezer. Setelah itu adonan roti siap digunakan setiap saat. Jadi
kalau Ibu
mendapat tambahan pesanan tak perlu lagi ditolak karena Ibu
tinggal mengeluarkan adonan roti. Membiarkannya sampai cukup empuk
(kira-kira 3 - 4 jam) lalu membentuknya dan mengistirahatkannya
kembali sekitar 20 menit. Setelah itu roti
siap
dioven. Sementara menunggu roti kembali empuk, Ibu bisa
mengerjakan pesanan rutin. Praktis, kan?
|
|
SPAGETI
BAGI VEGETARIAN
Ibu
Pengasuh yang terhormat,
Suami
saya menderita kanker dan dianjurkan dokter untuk menghindari
daging. Karena itu ia memutuskan makan dengan pola vegetarian.
Yang susah, kan, saya, ya Bu. Untuk anak-anak harus tetap
menyediakan daging, sementara untuk suami tanpa daging. Yang
paling sulit pula masakan tanpa daging seringnya tidak enak. Suami
saya selalu marah-marah kalau masakannya tidak enak.
Ibu, suami saya amat gemar makan spageti. Nah, bagaimana saya bisa
buat saus yang enak kalau tidak pakai daging? Terima kasih.
Ny.
Ratri Widodo - Jakarta Pusat
Ibu
Ratri yang sedang bersedih,
Namanya
saja cobaan, Bu, kalau dijadikan beban, mah rasanya bertambah
berat. Semua orang sakit pasti merasa tertekan. Percaya, deh,
suami Ibu marah-marah bukan karena masakan Ibu kurang sedap,
tetapi karena cobaan yang tengah ia derita. Ribuan orang di
Jakarta jadi pengikut vegetarian, tetapi bisa menikmati
hidangannya dengan enak. Jadi, tidak betul kalau dikatakan masakan
tanpa daging tidak enak. Yang penting, bagaimana cara
memvariasikannya agar tidak membosankan. Untuk saus spageti,
misalnya, mengapa Ibu tidak membuat saus gaya oriental. Tentu
minus daging-dagingan. Bumbunya, sih, biasa, Tapi Ibu
tambahkan 1 sendok teh saus tiram pada tiap porsi saus. Sebagai
pengganti daging Ibu bisa memakai tahu (kukus dulu supaya baunya
hilang). Kalau Bapak senang yang gurih-gurih, tambahkan saja
beberapa butir kacang mete yang dicincang kasar.
Bumbu,
cabai, rempah-rempah, atau bumbu dedaunan juga bisa dipakai
sebagai jalan keluar sebagai raibnya daging dari hidangan. Nah,
selamat berjuang.
|