|
Bagaimana
awalnya Ibu terjun membuat sirop tradisional?
Oh,
tanpa disengaja, kok. Ketika datang dari Tegal ke Jakarta, saya
bekerja sebagai karyawan swasta. Cuma karena merasa tak bebas,
saya berhenti dan mencari kegiatan yang sambil bekerja bisa juga
menjaga anak-anak.
Lalu
Anda membuat sirop tradisional?
Tidak
langsung, sih. Sebelum ke usaha sirop, saya sempat jualan
gado-gado, keripik singkong, buka warung, dan sebagainya. Tetapi
hasilnya tidak memuaskan. Malah uang saya dibawa lari karyawan
atau ketika ngewarung, saya nggak bisa menagih
piutang.
Nah,
dalam kebingungan itu tiba-tiba saya ingat pesan Kakek bahwa
rezeki saya di air. Karena itulah saya mencoba membuat sirop.
Tetapi,
kok, malah memilih sirop tradisional?
Soalnya
cuma minuman tradisional ini yang saya kuasai. Kebetulan kami
sekeluarga di Tegal memang secara rutin minum minuman sehat ini.
Selain itu Kakek juga pernah memberi buku tentang kegunaan tanaman
di sekitar kita sebagai obat dan kesehatan. Tetapi karena belum
mantap, saya juga mempelajari buku Obat Asli Indonesia,
karangan Dr. A. Seno Sastromidjojo dan buku lainnya. Saya juga
mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan usaha
saya. Nah, berbekal pengalaman membuat dan buku tadi, saya pun
mencoba memproduksi sirop tradisional tahun 1987.
Lalu
bagaimana Anda memperkenalkan minuman Anda?
Saya
termasuk wanita aktif. Jarang saya duduk-duduk diam di rumah.
Kebetulan saya selalu terlibat dalam kegiatan PKK dari
tingkat RT hingga Propinsi. Nah, dalam kegiatan-kegiatan itulah
saya memperkenalkan sirop garapan saya pada teman-teman. Padahal
waktu itu kemasannya cuma dibungkus plastik yang diikat karet.
Habis, modalnya saja cuma Rp. 50 ribu. Itu pun pinjam pada
pengurus PKK. Tampaknya minuman saya bisa diterima orang. Hingga
pesanan pun kian bertambah.
Kapan
Anda mulai memproduksinya secara serius?
Ya,
kira-kira 2 tahun sesudahnya. Saya mulai memikirkan merek.
Soalnya, sebelum ada merek, orang tahunya, kan, cuma sirop serai
atau sirup jahe, tidak tahu siapa pembuatnya. Saya lantas memilih
nama Sendy. Itu singkatan nama saya dan suami, sirup Eny
Subardi.
Nyatanya
setelah memakai merek, bagaimana perkembangan usaha Anda?
Kelihatannya
begitu. Maklumlah yang membuat sirop tradisional, kan, juga
banyak. Bukan tidak mungkin sebelumnya para pembeli saya terkecoh
membeli merek lain yang dikira buatan saya. Penggunaan merek juga
sangat membantu jika saya ikut pameran-pameran yang diadakan
institusi terkait seperti Deperindag (Departemen Perindustrian dan
Perdagangan) atau Departemen Pertanian.
Apa
saja jenis sirop tradisional yang kini Anda hasilkan?
Saat
ini ada lima jenis minuman yakni sirop jahe, serai, asam jawa,
kunyit asam, dan tiga rasa (Campuran keempat bahan tadi dengan
rasa lainnya, Red.). Khusus yang tiga rasa bisa diminum langsung,
tanpa perlu ditambah air. Meski bahan dasarnya seperti yang saya
sebut barusan, tetapi tidak cuma bahan itu saja yang saya gunakan.
Saya masih menambahkan kayumanis, gula batu, cengkeh, daun salam,
daun pandan, dan sirih.
Bagaimana
cara Anda mengemas sirop-sirop itu?
Sejak
serius dulu itu saya sudah mengemas minuman ini dalam botol-botol.
Botol besar ukuran 620 ml dan botol kecil ukuran 150 ml.
Berapa
harga tiap botol?
Yang
besar saya jual Rp 5.000 sampai
Rp. 6.000 sementara yang kecil Rp. 1.500. Ternyata yang kemasan
kecil langsung minum inilah yang paling laku.
Berapa
botol sirop bisa Anda jual tiap bulan?
Sementara
ini memang belum besar-besar amat. Tiap bulan cuma 21 ribu botol
yang besar dan 52 ribu yang kecil. Alhamdulillah banyak yang
menyukai sirop buatan saya. Mungkin juga karena mengetahui
khasiatnya.
Apa,
sih, khasiatnya?
Serai,
misalnya, berguna
untuk melegakan pernafasan, mencegah tingginya kadar asam urat,
dan membersihkan paru-paru. Sedangkan jahe bisa menghangatkan dan
menyegarkan badan. Kunyit asam dan asam jawa baik untuk
menghilangkan panas dalam, melangsingkan tubuh, dan bikin kita
awet muda. Bahkan dulu anak saya pernah sakit muntaber lalu saya
berikan sirop ini. Eh, besoknya langsung bisa sekolah lagi.
Jadi
yang tiga rasa dari segi khasiat pasti lebih baik, ya?
Betul.
Selain manfaat tadi, sirop tiga rasa juga mencegah datangnya
rematik dan sakit mag. Selain itu juga melancarkan peredaran
darah. Alhamdulillah semua keluarga saya jarang terkena flu atau
penyakit lainnya, soalnya semuanya mengkonsumsi minuman ini setiap
hari. Saya saja selalu merasa sehat dan mampu beraktivitas penuh
setiap hari padahal saya sering begadang. Bahkan pelanggan saya
ada yang menderita asam urat dan lumpuh lengan, menjadi sehat
kembali setelah rajin minum sirop ini.
Dari
mana Anda dapatkan bahan untuk membuat minuman ini?
Untuk
jahe dan serai, saya dapat dari para petani di sekitar sini. Bahan
lain saya punya penyalur khusus. Karena mereka dekat dengan tempat
tinggal saya, maka saya pun bisa menjaga kualitas tanaman itu.
Produksi
Anda luar biasa tinggi, apa, sih, rahasia resepnya?
Ah,
nggak macam-macam, kok. Yang pasti bahan dasar harus segar.
Karena sirop saya tanpa pengawet. Selain itu harus menguasai
sifat-sifat tanaman. Kalau asal rebus saja, wah, hasilnya bisa nggak
karuan. Misalnya saja, jahe kalau direbus bersama gula merah dan
serai, rasanya pasti pahit. Karena jahe nggak boleh direbus
terlalu lama. Padahal untuk membuat sirop dibutuhkan waktu 4 jam
untuk merebusnya. Jahenya pun harus pilihan. Umurnya harus lebih
dari 1 tahun supaya khasiatnya banyak. Demi hasil yang oke, semua
hal sampai ke hal-hal yang kecil saya perhatikan betul. Panci
merebus tiap sirop pun khusus. Panci sirop serai tidak bisa
digunakan sirop asam, misalnya. Tetapi di atas segala-galanya,
saya menjaga kebersihan. Dengan begitu sirop akan tahan lama.
Bagaimana
dengan pengemasan? Segel minuman Anda tampaknya cukup rapi?
Ha...ha...ha...
Anda tak tahu, kan, ini buatan tangan saja. Plastik segel
memang saya pesan dari luar. Tetapi menyegelnya cuma pakai hair
dryer, lo. Alat
saya masih sangat sederhana. Bahkan kompor saya pun cuma dua.
Makanya saya tidak bisa bikin sirop tiap hari, tetapi dua
hari sekali. Satu hari untuk membuat sirup, satu hari lagi
untuk mengemas seperti memasukkan sirup ke dalam botol,
penempelan label, menutup botol, dan menyegelnya.
Dan
karena kompornya cuma dua itu, satu hari saya harus membuat
4 - 5 kali sirop untuk mengejar pesanan. Dalam dua hari itu
saya bisa menghasilkan 600 botol sirop ukuran besar dan
2.000 yang kecil.
Berapa
lama sirop buatan Anda bisa bertahan?
Bisa
sampai 7 bulan. Sebaiknya, sih, disimpan dalam kulkas. Tetapi
khusus yang kunyit asam pernah mencapai 1,5 tahun, lo. Saya
mencobanya sendiri, kok. Karena kalau ada efeknya, biar saya saja
yang kena duluan.
Saat
ini Anda dibantu berapa karyawan?
Sekitar
10 orang. Tetapi sebenarnya kurang sreg kalau disebut karyawan.
Mereka itu, kan anak-anak di sekitar lingkungan rumah saya yang
putus sekolah atau putus kerja. Jumlah ini bisa meningkat jika
pesanan meningkat. Saya tinggal menambah tenaga dari
tetangga-tetangga saya.
Bagaimana
strategi penjualan Anda?
Selain
dari mulut ke mulut, saya juga sering ikut pameran. Ini ujung
tombak pemasaran saya. Bahkan dulu saya bela-belain naik
ojek sambil bawa berdus-dus botol sirop. Nah, di tempat pameran
inilah saya tampil sebaik-baiknya dengan seragam khusus. Sebagian
sirop malah saya siapkan untuk icip-icip gratis. Selain
itu
saya juga menaruh sirop saya di di aneka wartel, supermarket
Tiptop, dan berbagai koperasi.
Anak-anak
juga terlibat dalam pembuatan sirop?
Oh
harus. Kelima anak saya saya haruskan terjun ke usaha ini. Soalnya
ini resep keluarga jadi harus ada yang meneruskan. Karyawan pun
saya ajarkan. Tidak ada rahasia. Wong ini ilmu dari Allah, kok.
Tetapi umumnya mereka masih belum bisa meramu secara pas. Kadang
terlalu manis, kadang encer. Nanti lama-lama juga bisa. Anak-anak
saya juga banyak membantu di bidang pemasaran.
Kendala
apa yang Anda rasakan untuk mengembangkan usaha ini?
Yang
pertama, sih, jelas
modal. Tetapi yang ingin saya atasi saat ini yaitu masalah
pemsaran dan distribusi. Minuman saya, kan, sudah lumayan
diketahui masyarakat. Jadi kegiatan promosinya mulai saya
turunkan, tetapi pemasarannya saya galakkan. Saat ini saya tengah
merintis jalan agar minuman ini bisa dijual di berbagai
supermarket dan toko-toko lainnya. Saya mulai menjual ke luar kota
juga antara lain ke Bandung. Saya juga tengah berusaha membuka cabang di Tegal
dan Yogyakarta soalnya sudah ada permintaan. Tetapi kendalanya
pada proses distribusinya. Saya mengalami kesulitan karena tidak
sempat mengurusnya.
Selama ini saya mendapat binaan dan bantuan dari lembaga-lembaga
terkait, terutama Deperindag.
Melihat
pesatnya usaha Anda, tentu sudah banyak yang Anda peroleh, ya?
Alhamdulillah.
Kami bisa menyekolahkan anak-anak, bisa membangun rumah. Tetapi
yang utama justru bukan materi. Kebanggaan buat saya bisa
menyediakan lapangan kerja untuk para tetangga. Malah dulu ada
orang yang menawarkan jahe. Karena jelek, saya tolak. Eh, ia malah
berniat menjualkan sirop saya. Ia kini jadi
salah satu agen yang berhasil hingga ia pun bisa menyekolahkan
anak-anaknya.
Apa
target Anda di masa datang?
Tahun
ini minuman saya harus masuk supermarket. Itu target utama. Selain
itu saya juga ingin memiliki semacam tempat terpisah untuk
memproduksi minuman dan ruang khusus sebagai kantor yang mengurus
manajemen pemasarannya. Saat ini kan masih dibuat di rumah saya,
tetapi karena adanya peningkatan produksi, rumah saya
terlalu padat. Saya juga akan mengembangkan sirop dengan
rasa lain, seperti jeruk atau
sirsak. Agar lebih praktis, saya juga akan membuat sirop
ini dalam bentuk ekstrak yang dikemas dalam sachet sehingga
lebih mudah membawanya. Ya mudah-mudahan ada pengusaha yang mau
membantu dan bekerja sama dengan saya. Bisnis ini menjanjikan, lo.
Miftakh/foto : Veri
Valensi
|