Sedap Sekejap Edisi 4/I-Maret 2000

 

Pengusaha Sirop Tradisional Ny. Eny Muaeny Subardi

MODALNYA PETUAH KAKEK DAN SEJUMLAH BUKU

Jangan pernah mengabaikan industri rumahan. Meski kelihatannya kecil, bila ditangani secara serius hasilnya mampu membuat kita ternganga. Lihat saja sirop tradisional yang diproduksi oleh Ny. Eny Muaeny Subardi (43). Setiap bulan ia bisa menjual 21 ribu sirop botol besar dan 52 ribu botol kecil! "Dari segi materi mungkin tidak besar-besar amat. Tetapi saya bangga bisa membuka lapangan kerja," kata lulusan SPG ini. Nah, Anda bisa meneladani pengusaha beranak 5 ini lewat obrolannya dengan Sedap Sekejap berikut ini.


Bagaimana awalnya Ibu terjun membuat sirop tradisional?
Oh, tanpa disengaja, kok. Ketika datang dari Tegal ke Jakarta, saya bekerja sebagai karyawan swasta. Cuma karena merasa tak bebas, saya berhenti dan mencari kegiatan yang sambil bekerja bisa juga menjaga anak-anak.

Lalu Anda membuat sirop tradisional?
Tidak langsung, sih. Sebelum ke usaha sirop, saya sempat jualan gado-gado, keripik singkong, buka warung, dan sebagainya. Tetapi hasilnya tidak memuaskan. Malah uang saya dibawa lari karyawan atau ketika ngewarung, saya nggak bisa menagih piutang.  Nah, dalam kebingungan itu tiba-tiba saya ingat pesan Kakek bahwa rezeki saya di air. Karena itulah saya mencoba membuat sirop.

Tetapi, kok, malah memilih sirop tradisional?
Soalnya cuma minuman tradisional ini yang saya kuasai. Kebetulan kami sekeluarga di Tegal memang secara rutin minum minuman sehat ini. Selain itu Kakek juga pernah memberi buku tentang kegunaan tanaman di sekitar kita sebagai obat dan kesehatan. Tetapi karena belum mantap, saya juga mempelajari buku Obat Asli Indonesia, karangan Dr. A. Seno Sastromidjojo dan buku lainnya. Saya juga mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan usaha saya. Nah, berbekal pengalaman membuat dan buku tadi, saya pun mencoba memproduksi sirop tradisional tahun 1987.

Lalu bagaimana Anda memperkenalkan minuman Anda?
Saya termasuk wanita aktif. Jarang saya duduk-duduk diam di rumah.  Kebetulan saya selalu terlibat dalam kegiatan PKK dari tingkat RT hingga Propinsi. Nah, dalam kegiatan-kegiatan itulah saya memperkenalkan sirop garapan saya pada teman-teman. Padahal waktu itu kemasannya cuma dibungkus plastik yang diikat karet.  Habis, modalnya saja cuma Rp. 50 ribu. Itu pun pinjam pada pengurus PKK. Tampaknya minuman saya bisa diterima orang. Hingga pesanan pun kian bertambah.

Kapan Anda mulai memproduksinya secara serius?
Ya, kira-kira 2 tahun sesudahnya. Saya mulai memikirkan merek. Soalnya, sebelum ada merek, orang tahunya, kan, cuma sirop serai atau sirup jahe, tidak tahu siapa pembuatnya. Saya lantas memilih nama Sendy. Itu singkatan nama saya dan suami, sirup Eny Subardi.

Nyatanya setelah memakai merek, bagaimana perkembangan usaha Anda?
Kelihatannya begitu. Maklumlah yang membuat sirop tradisional, kan, juga banyak. Bukan tidak mungkin sebelumnya para pembeli saya terkecoh membeli merek lain yang dikira buatan saya. Penggunaan merek juga sangat membantu jika saya ikut pameran-pameran yang diadakan institusi terkait seperti Deperindag (Departemen Perindustrian dan Perdagangan) atau Departemen Pertanian.

Apa saja jenis sirop tradisional yang kini Anda hasilkan?
Saat ini ada lima jenis minuman yakni sirop jahe, serai, asam jawa, kunyit asam, dan tiga rasa (Campuran keempat bahan tadi dengan rasa lainnya, Red.). Khusus yang tiga rasa bisa diminum langsung, tanpa perlu ditambah air. Meski bahan dasarnya seperti yang saya sebut barusan, tetapi tidak cuma bahan itu saja yang saya gunakan. Saya masih menambahkan kayumanis, gula batu, cengkeh, daun salam, daun pandan, dan sirih.

Bagaimana cara Anda mengemas sirop-sirop itu?
Sejak serius dulu itu saya sudah mengemas minuman ini dalam botol-botol. Botol besar ukuran 620 ml dan botol kecil ukuran 150 ml.

Berapa harga tiap botol?
Yang besar saya jual Rp 5.000  sampai Rp. 6.000 sementara yang kecil Rp. 1.500. Ternyata yang kemasan kecil langsung minum inilah yang paling laku.

Berapa botol sirop bisa Anda jual tiap bulan?
Sementara ini memang belum besar-besar amat. Tiap bulan cuma 21 ribu botol yang besar dan 52 ribu yang kecil. Alhamdulillah banyak yang menyukai sirop buatan saya. Mungkin juga karena mengetahui khasiatnya.

Apa, sih, khasiatnya?
Serai, misalnya,  berguna untuk melegakan pernafasan, mencegah tingginya kadar asam urat, dan membersihkan paru-paru. Sedangkan jahe bisa menghangatkan dan menyegarkan badan. Kunyit asam dan asam jawa baik untuk menghilangkan panas dalam, melangsingkan tubuh, dan bikin kita awet muda. Bahkan dulu anak saya pernah sakit muntaber lalu saya berikan sirop ini. Eh, besoknya langsung bisa sekolah lagi.

Jadi yang tiga rasa dari segi khasiat pasti lebih baik, ya?
Betul. Selain manfaat tadi, sirop tiga rasa juga mencegah datangnya rematik dan sakit mag. Selain itu juga melancarkan peredaran darah. Alhamdulillah semua keluarga saya jarang terkena flu atau penyakit lainnya, soalnya semuanya mengkonsumsi minuman ini setiap hari. Saya saja selalu merasa sehat dan mampu beraktivitas penuh setiap hari padahal saya sering begadang. Bahkan pelanggan saya ada yang menderita asam urat dan lumpuh lengan, menjadi sehat kembali setelah rajin minum sirop ini.

Dari mana Anda dapatkan bahan untuk membuat minuman ini?
Untuk jahe dan serai, saya dapat dari para petani di sekitar sini. Bahan lain saya punya penyalur khusus. Karena mereka dekat dengan tempat tinggal saya, maka saya pun bisa menjaga kualitas tanaman itu.

Produksi Anda luar biasa tinggi, apa, sih, rahasia resepnya?
Ah, nggak macam-macam, kok. Yang pasti bahan dasar harus segar. Karena sirop saya tanpa pengawet. Selain itu harus menguasai sifat-sifat tanaman. Kalau asal rebus saja, wah, hasilnya bisa nggak karuan. Misalnya saja, jahe kalau direbus bersama gula merah dan serai, rasanya pasti pahit. Karena jahe nggak boleh direbus terlalu lama. Padahal untuk membuat sirop dibutuhkan waktu 4 jam untuk merebusnya. Jahenya pun harus pilihan. Umurnya harus lebih dari 1 tahun supaya khasiatnya banyak. Demi hasil yang oke, semua hal sampai ke hal-hal yang kecil saya perhatikan betul. Panci merebus tiap sirop pun khusus. Panci sirop serai tidak bisa digunakan sirop asam, misalnya. Tetapi di atas segala-galanya, saya menjaga kebersihan. Dengan begitu sirop akan tahan lama.  

Bagaimana dengan pengemasan? Segel minuman Anda tampaknya cukup rapi?  
Ha...ha...ha... Anda tak tahu, kan, ini buatan tangan saja. Plastik segel memang saya pesan dari luar. Tetapi menyegelnya cuma pakai hair dryer, lo.  Alat saya masih sangat sederhana. Bahkan kompor saya pun cuma dua. Makanya saya tidak bisa bikin sirop tiap hari, tetapi dua hari sekali. Satu hari untuk membuat sirup, satu hari lagi untuk mengemas seperti memasukkan sirup ke dalam botol, penempelan label, menutup botol, dan menyegelnya. Dan karena kompornya cuma dua itu, satu hari saya harus membuat 4 - 5 kali sirop untuk mengejar pesanan. Dalam dua hari itu saya bisa menghasilkan 600 botol sirop ukuran besar dan 2.000 yang kecil.

Berapa lama sirop buatan Anda bisa bertahan?
Bisa sampai 7 bulan. Sebaiknya, sih, disimpan dalam kulkas. Tetapi khusus yang kunyit asam pernah mencapai 1,5 tahun, lo. Saya mencobanya sendiri, kok. Karena kalau ada efeknya, biar saya saja yang kena duluan.

Saat ini Anda dibantu berapa karyawan?
Sekitar 10 orang. Tetapi sebenarnya kurang sreg kalau disebut karyawan. Mereka itu, kan anak-anak di sekitar lingkungan rumah saya yang putus sekolah atau putus kerja. Jumlah ini bisa meningkat jika pesanan meningkat. Saya tinggal menambah tenaga dari tetangga-tetangga saya.

Bagaimana strategi penjualan Anda?
Selain dari mulut ke mulut, saya juga sering ikut pameran. Ini ujung tombak pemasaran saya. Bahkan dulu saya bela-belain naik ojek sambil bawa berdus-dus botol sirop. Nah, di tempat pameran inilah saya tampil sebaik-baiknya dengan seragam khusus. Sebagian sirop malah saya siapkan untuk icip-icip gratis. Selain itu saya juga menaruh sirop saya di di aneka wartel, supermarket Tiptop, dan berbagai koperasi.

Anak-anak juga terlibat dalam pembuatan sirop?
Oh harus. Kelima anak saya saya haruskan terjun ke usaha ini. Soalnya ini resep keluarga jadi harus ada yang meneruskan. Karyawan pun saya ajarkan. Tidak ada rahasia. Wong ini ilmu dari Allah, kok. Tetapi umumnya mereka masih belum bisa meramu secara pas. Kadang terlalu manis, kadang encer. Nanti lama-lama juga bisa. Anak-anak saya juga banyak membantu di bidang pemasaran.

Kendala apa yang Anda rasakan untuk mengembangkan usaha ini?
Yang pertama, sih,  jelas modal. Tetapi yang ingin saya atasi saat ini yaitu masalah pemsaran dan distribusi. Minuman saya, kan, sudah lumayan diketahui masyarakat. Jadi kegiatan promosinya mulai saya turunkan, tetapi pemasarannya saya galakkan. Saat ini saya tengah merintis jalan agar minuman ini bisa dijual di berbagai supermarket dan toko-toko lainnya. Saya mulai menjual ke luar kota juga antara lain ke  Bandung. Saya juga tengah berusaha membuka cabang di Tegal dan Yogyakarta soalnya sudah ada permintaan. Tetapi kendalanya pada proses distribusinya. Saya mengalami kesulitan karena tidak sempat mengurusnya. Selama ini saya mendapat binaan dan bantuan dari lembaga-lembaga terkait, terutama Deperindag.

Melihat pesatnya usaha Anda, tentu sudah banyak yang Anda peroleh, ya?
Alhamdulillah. Kami bisa menyekolahkan anak-anak, bisa membangun rumah. Tetapi yang utama justru bukan materi. Kebanggaan buat saya bisa menyediakan lapangan kerja untuk para tetangga. Malah dulu ada orang yang menawarkan jahe. Karena jelek, saya tolak. Eh, ia malah berniat menjualkan sirop saya. Ia kini jadi
salah satu agen yang berhasil hingga ia pun bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Apa target Anda di masa datang?
Tahun ini minuman saya harus masuk supermarket. Itu target utama. Selain itu saya juga ingin memiliki semacam tempat terpisah untuk memproduksi minuman dan ruang khusus sebagai kantor yang mengurus manajemen pemasarannya. Saat ini kan masih dibuat di rumah saya, tetapi karena adanya peningkatan produksi, rumah saya  terlalu padat. Saya juga akan mengembangkan sirop dengan rasa lain, seperti jeruk atau  sirsak. Agar lebih praktis, saya juga akan membuat sirop ini dalam bentuk ekstrak yang dikemas dalam sachet sehingga lebih mudah membawanya. Ya mudah-mudahan ada pengusaha yang mau membantu dan bekerja sama dengan saya. Bisnis ini menjanjikan, lo. Miftakh/foto : Veri Valensi

 

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA