Sedap Sekejap Edisi 7/I-Juni 2000

 


 Melongok Jajanan
Jakarta
Dari Soto Gebrak, Nasi Uduk, Sampai Gultik

 

 

Jakarta bukan cuma menawarkan seribu satu macam hiburan, tetapi juga segudang jajanan. Beberapa di antaranya begitu topnya hingga ke sanalah orang Jakarta maupun luar kota selalu pergi bila menginginkan jajanan tertentu. Nah, sebagian di antara jajanan itu bisa Anda simak di sini. Siapa tahu Anda pun ingin mencoba salah satunya

 

 ASINAN KAMBOJA 

Sesuai dengan namanya, asinan kreasi Ny. Isye ini berlokasi di Jalan Kamboja, Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak dibuka tahun 1986, Asinan Spesial Ny. Isye ini sudah laris manis. "Maklum kami tangani secara spesial," ujar Toto Suharto, suami Ny. Isye, pemilik kedai ini.

Bicara soal spesial, ternyata bukan cuma pembuatannya yang khusus, pemilihan bahan pun dilakukan secara istimewa. Selada, wortel, mi, ketimun, dan taoge, misalnya hanya dibeli di penjual langganan di Pasar Cipinang. Bahkan untuk kol yang kebutuhannya setiap hari 15 kilogram, khusus didatangkan dari Lembang, Jawa Barat. Begitupun dengan kerupuk mi yang di"impor" dari Bogor. "Soalnya kerupuk mi buatan Bogor dibuat dari campuran tepung sagu dan terigu. Jadi lebih renyah," jelas Isye.

Toh, tak hanya di dua kota itu pasangan ini berburu bahan demi kelezatan asinan mereka. Kacang tanah bumbu sang asinan mereka datangkan dari Tuban. Alasannya, kacang tanah dari Jawa timur itu lebih gurih dan pas dijadikan bumbu asinan.

Untuk menghasilkan asinan yang lezat itu, Isye punya trik khusus. "Saya pakai gula pasir, bukan gula merah seperti umumnya yang dibuat orang. Supaya tahan lama, air yang digunakan pun air matang," papar Isye.

Soal tahan lama memang bukan omong kosong. Menurut Isye asinan buatannya mampu bertahan hingga 1 minggu. "Bahkan seorang pelanggan saya yang membawa asinan saya ke Amerika bilang, asinan saya bisa bertahan sampai 1 bulan," kata Isye bangga Di kedai yang relatif kecil dan sederhana yang cuma bisa menampung 30 - 40 orang itu, Isye boleh dibilang tak kerepotan melayani pembelinya. Kecuali karena dibantu 10 karyawannya, para pelanggannya lebih suka memesan lewat telepon. Selain itu, ia pun sudah membuka dua cabang di Food Plaza Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai. Mereka juga kerap ambil bagian di acara-acara festival makanan yang kerap di gelar di berbagai Mal di Jakarta.

 GADO-GADO BOPLO 

Di Jakarta gado-gado Boplo merupakan trade mark gado-gado. Tak heran, gado-gado ini sudah "beredar" selama 29 tahun. Padahal awalnya, sang pemilik, Ny. Juliana Hartono cuma memulai dari hobi mencoba-coba resep. Keisengannya ternyata membawa hasil. Kini gado-gado buatannya bukan main lakunya. "Satu hari saya membutuhkan 50 kilogram kacang, lo," cetusnya bangga. Ketika pertama kali berjualan Aye, panggilan Juliana, membuka kedainya di rumahnya, di daerah pasar Boplo, Kebon Sirih. Karena laku keras, ia pindah ke tempat yang lebih besar di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat yang sekarang dikelola saudara iparnya, Ny. Esther.

Keistimewaan gado-gado Boplo terletak pada kacangnya. Kalau biasanya orang membuat gado-gado dengan kacang tanah, Aye menambahkan kacang mede. Makanya harganya pun 2 kali lipat gado-gado umumnya. Satu piring gado-gado Boplo dijual dengan harga Rp 8.000. Trik ini ditemukan Aye tahun 1985. Dan ternyata semakin menambah jumlah pelanggannya. Berapa banyak perbandingan kacang tanah dan kacang mede, cuma Aye yang tahu. "Saya yang memegang resepnya. Dan resep itu pun sudah saya patenkan, lo," tandasnya.

Kini Aye sudah membuka dua cabang di Perumahan Kelapa Gading dan di Diamond Food Court Mal Kelapa gading. Malah khusus untuk wilayah Kelapa Gading, kata Aye, "Saya menyediakan jasa antar ke rumah."

Khusus untuk hari Minggu di Kelapa Gading, baru-baru ini Aye juga menyediakan nasi uduk dan nasi ulam. Sementara di Jl. Wahid Hasyim Aye cuma buka Senin hingga Sabtu. Dari ketiga kedai itu, Aye mengaku, mendapat pemasukan sekitar Rp 15 juta. "Uang itu selain untuk beli bahan, juga untuk menggaji 12 karyawan."

Gado-gado yang diawali keisengan ini bukan cuma mengantarkan Aye pada kehidupan yang lumayan mapan, tetapi juga sebuah penghargaan dari Tim Penggerak Aku Cinta Makanan Indonesia Departemen Pangan/Bulog pada bulan April 1994.

 MI JAWA 

Kalau Anda pecinta bakmi, singgahlah di Bakmi Jawa yang terletak Jl. Penjernihan, Pejompongan, Jakarta Pusat. Tak kurang dari 6 macam bakmi bisa Anda cicipi di sana. Mulai dari bakmi telur, bakmi kepala, bakmi uritan, bakmi paha, bakmi brutu, sampai bakmi rempela ati. Semua itu tersedia dalam versi rebus dan goreng.

Bukan cuma mi yang ditawarkan Sentanoe Kertonegoro (60). Sesuai namanya, restoran ini juga menyuguhkan aneka makanan lain khas Yogyakarta seperti, gudeg, tahu guling, lotek jawa, mangut lele, dan carang gesing. Tak ketinggalan pula wedang ronde, dawet dan jajan pasar asal Jawa Tengah seperti jenang gempol, lumpia, dan ledre. Pendeknya segala jajanan khas Jawa Tengah bisa Anda temukan di sana.

"Restoran ini memang saya buka lebih untuk pelestarian budaya ketimbang usaha bisnis," kata Sentanoe yang mengaku khawatir makanan tradisional kita tersisih dari makan luar negeri. Itu makanya Sentanoe yang juga dosen Ekonomi di beberapa perguruan tinggi di Jakarta ini enggan disebut pengusaha. "Saya lebih bangga dikatakan pengamat budaya," tandasnya.

Awalnya, Sentanoe merasa prihatin dengan nasib makanan tradisional daerah asalnya yang dijual di kaki lima dengan penanganan seadanya. Bakmi jawa yang menurutnya ibarat "makanan kebangsaan" warga Yogya merupakan makanan istimewa yang patut diangkat ke tempat yang lebih terhormat.

Akhirnya ia menghubungi penjual bakmi jawa langganannya di Jl. KHA. Dahlan Yogyakarta, Pak Rakiman. Ia menawari Rakiman berjualan di Jakarta. Akhirnya dibukalah kedai bakmi jawa yang pertama di Jl. Rempoa Raya tahun 1995. Setelah laris, Sentanoe pun membuka cabang di Penjernihan.

Selain Rakiman, Sentanoe juga mengajak ahli masak lain dari Bantul. Mereka diminta mendidik tenaga masak di Jakarta sampai bisa. Perkakas pun sengaja ia datangkan dari Yogya. Misalnya, poci, gelas, dan stoples. Karyawannya yang berjumlah 30 orang itu pun datang dari Gunung Kidul, Yogyakarta.

Karena tujuan semula untuk melestarikan budaya, maka interior restoran pun didesain khas Jawa. Di beberapa sudut tampak digelar makanan khas tadi, lengkap dengan pikulan yang khas. Para pelayannya pun menggunakan seragam batik khas Yogya. Sambil makan, para pengunjung ditemani gending jawa. Suasananya betul-betul romantis.

Diakui Sentanoe, selain kelezatan makanannya, suasana rumah makannya turut menunjang kelarisan restorannya. "Menurut pengamatan saya ada 3 tipe pengunjung restoran saya. Yang pertama, orang yang ingin makan. Setelah itu orang yang bernostalgia dengan suasana Yogya, dan orang yang ingin memperkenalkan makanan Yogya kepada temannya. Banyak, lo, public figure yang juga gemar makan di sini. Titik Puspa, Adnan Buyung Nasution, dan Muladi termasuk pelanggan saya," kata Sentanoe bangga.

Meski lebih menekankan unsur budaya, rumah makan ini cukup mendatangkan keuntungan. "Ya, setiap bulan omzetnya mencapai Rp. 75 juta," kata pria yang tengah menyusun buku Yogyakarta 2000 ini.

lanjut >>

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA