Sedap Sekejap Edisi 7/I-Juni 2000

 


Melongok Jajanan
Jakarta
Dari Soto Gebrak, Nasi Uduk, Sampai Gultik

 

 BUBUR AYAM CIDENG 

Kalau cuma melihat tempatnya, tak pernah Anda sangka, Bubur Ayam Cideng ini punya segudang penggemar. Bayangkan, kedai yang terletak di kawasan Pasar Thomas, Cideng, Jakarta Pusat ini cuma mampu menampung 15 pengunjung saja. Tapi cobalah, duduk di situ dalam 2 jam, niscaya Anda akan melihat arus pengunjung yang silih-berganti tiada henti. Sementara di jalan, antre berjajar mobil-mobil mewah. Para pemiliknya rela makan di dalam mobil ketimbang tak kebagian tempat.

Udin (56 th), sang pemilik, sudah tak ingat kapan ia mulai merintis usahanya. "Pokoknya, usahanya saya teruskan dari Ibu yang semula berjualan ketoprak. Tapi karena nggak laku, saya banting stir ke bubur ayam," jelas Udin.

Karena makin hari penggemarnya makin berjibun, bukan cuma Udin yang beralih ke bubur ayam, ibu pun meninggalkan ketopraknya dan membantu Udin. Bahkan kemudian makin banyak lagi pembantu Udin.

Yang ditawarkan kedai ini cuma dua macam, bubur ayam biasa dengan harga Rp 4 ribu dan bubur ayam kuning telur seharga Rp 5 ribu. "Buburnya juga nggak macam-macam, kok. Pake ayam, kedele goreng, seledri, tongcai, dan emping. Tapi kecapnya memang khusus. Sejak dulu saya cuma percaya pada kecap cap Bebek sejak harganya masih seratus perak," papar Udin.

Masih ada rahasia khusus. "Berasnya harus beras Cianjur. Dan saya selalu bikin ayamnya sendiri, mulai dari motong sampai masak," cetus Udin.

Tak sedikit orang yang mengajak Udin bekerja sama membuka cabang, namun Udin selalu menolak. "Bukan karena sombong, tetapi saya rasa sekarang ini sudah cukup. Yang penting, kan, sudah ada buat makan dan biaya anak sekolah." Karena merasa cukup pula Udin tak pernah menambah kebutuhan berasnya. Sejak dulu ia cuma menggunakan 5-6 kg beras setiap hari. Jika sudah habis, ya sudah. Tak heran kedainya cuma buka selama 3 jam. "Penghasilan saya pun cuma Rp 500 ribu setiap hari. Tapi itu sudah cukup, kok, untuk menggaji karyawan," kata Udin yang hanya membuka warungnya sampai hari Sabtu itu.

 NASI UDUK KARET 

Meski cuma kedai, jangan remehkan Nasi Uduk Yoyo yang letaknya di Karet Bivak ini. Umurnya pasti mengujutkan Anda. Hampir setengah abad! Ya, sudah 46 tahun nasi uduk ini bertahan kendati pemiliknya, Pak Yoyo yang asli Betawi ini sudah meninggal 20 tahun lalu. Kendati juga warung nasi uduk makin ingar-bingar di Jakarta.

Kini kedai nasi uduk ini dikelola Asmawi (45 th) dan istrinya, Rohani (41). Sehari pasangan ini memasak 20 liter beras, 5 ekor ayam untuk ayam goreng, dan 5 kilogram daging sapi untuk empal. Jumlah ini mengingkat kalau ada pesanan utnuk arisan atau rapat kantor. "sebelon krisis lebih banyak lagi,"kata Rohani.

Selama 46 tahun ini sudah beberapa kali kedai ini pindah-pindah. Entah karena lokasinya akan dibangun gedung mewah atau sebab lainnya. Toh, kedai ini tetap saja sederhana. Ukurannya pun cuma muat 20 tempat duduk. Makanya setiap jam makan siang selalu terlihat antrean panjang. Namun orang tetap saja bersedia mampir makan di situ.

Di kedai ini para pengunjung sudah bisa makan kenyang dengan hanya menyediakan uang Rp 1.500. Tentu ini cuma untuk sepiring nasi uduk polos tanpa lauk. "Tapi karena nasi uduknya enak, ya, cukuplah," kata seorang pengunjung.

Sebagai teman nasi uduk, Rohani juga menyediakan ayam goreng serundeng, empal, ati-ampela goreng, dan gorengan kambing. "Cuma kalau malam saya nggak menyediakan gorengan kambing," jelas Rohani. Menurut pasangan ini, nasi uduk mereka tidak ada keistimewaannya dalam pembuatan. "Biasa aje kayak nasi uduk pada umumnya. Tetapi memasaknya saya tetap pake kayu bakar supaya rasanya lebih gurih," jelas Rohani.

 SOTO GEBRAK 

Menunya memang hanya ringan-ringan saja. Cuma soto-sotoan, dari soto ayam, soto daging, babat, usus, campur, dan rawon. Semuanya dipukul rata dengan harga cukup murah, 4 ribu rupiah seporsinya. Tetapi pengunjung yang datang ke sini harus punya hati "tabah". Sejak datang Anda sudah dikageti suara benturan menggelegar dari botol kecap yang dibantingkan ke meja. Benturannya cukup membuat jantung berdebar. Karena itu di dinding tertulis huruf besar-besar, "Senyum Boleh, marah Jangan" seakan mohon maaf terhadap kejutan-kejutan yang bakal Anda terima sepanjang makan di situ.

Meski kedai soto yang terletak di Jl. Setiabudi, Jakarta Pusat ini sudah didirikan sejak tahun 1972, namun ciri khas "gebrakannya" baru dimulai tahun 1990. "Terus-terang saya memperoleh idenya dari Soto Dog (artinya gebrak, Red) Jawa Timur," kata Purwanto, penanggung jawab Soto Gebrak Setiabudi.

Tapi, lanjut Purwanto, karena khawatir disangka menyajikan soto dari daging anjing, akhirnya disepakati bernama soto gebrak. Begitu keras gebrakan botol kecap berbentuk seperti botol jin ini (karena leher botolnya memanjang dan membesar dibagian bawah), setiap dua tahun, ia terpaksa mengganti botol kecapnya karena pecah .

Bukan cuma itu akibat gebrakan si botol kecap. Meski sudah diingatkan, toh, pengunjung yang protes tak sedikit jumlahnya. Maklumlah mereka yang tak terbiasa, merasa tidak bisa menikmati soto dengan santai. Apalagi mereka yang latah, pasti malu dibuatnya. Seperti seorang gadis yang tengah menikmati pesanannya, berseru "Eh copot-copot, ada apaan sih?" dengan tampang bingung. Tampaknya ia pengunjung baru. Sementara pengunjung lainnya yang sudah tahu, hanya senyam-senyum saja melihatnya. 

Selain soto, Soto Gebrak Jaya Mulya memiliki menu andalan sate telur muda dan sate usus ayam goreng. Untuk sate telur muda, jangan coba-coba mencarinya di atas pukul 11 siang kalau tak mau kehabisan. "Padahal setiap hari saya membawa 30 hingga 50 tusuk," jelas Anton yang membuka kedainya sejak pukul 9 pagi ini. Dalam satu hari, ia menggunakan sekitar 40 kg daging sapi, 17 kg usus ayam, dan campuran jeroan yang terdiri dari usus, babat dan paru sekitar 15 kg. Pendapatan kotor yang diperolehpun lumayan, sekitar 3 juta rupiah per hari.

Di samping di Jl Setiabudi, Soto Gebrak ini bisa ditemukan di kawasan Jl. Tebet Utara I tepat di tikungan Casablanca dan juga di Jl. Pondok Gede yang menuju arah Lubang Buaya.

lanjut >>

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA