Sedap Sekejap Edisi 7/I-Juni 2000

 


Melongok Jajanan
Jakarta
Dari Soto Gebrak, Nasi Uduk, Sampai Gultik

 

 GULTIK 

Gulai memang bukan masakan asli Jakarta, namun Jakarta tidak kekurangan jajanan gulai. Di tikungan Jl. Mahakam dan Bulungan, Jakarta Selatan, misalnya, berderet kedai-kedai gulai yang akrab dikenal sebagai gultik (gule tikungan). Bahkan oleh para penggemarnya yang umumnya anak-anak muda istilah itu kemudian diplesetkan jadi gule tikus.

Uniknya, kedai-kedai yang berderet di sana tidak saling bersaing. Mereka kompak satu sama lain. Meski tanpa aturan tertulis, para pedagang berjualan bergantian. Baik hari maupun jamnya. Pedagang yang satu segera angkat kaki, begitu pedagang lainnya datang. Makanya kedai-kedai ini bisa buka selama 24 jam karena penjualannya bergantian. Tiap penjual kebagian 3 hari berjualan setiap minggunya.

Harganya boleh dibilang cukup miring. Dengan Rp 2 ribu, kita sudah bisa menikmati satu mangkuk gulai plus nasi beserta kerupuk. Rasanya pun cukup lezat. Daging sapinya empuk, kuahnya dari santan kental, dan bumbunya pun pas. "Daging, sih, memang kita pilih yang berkualitas," kata Tawar seorang penjual di situ yang mewarisi dagangannya dari kakeknya, Wongso Sutomo.

Meski harus dagang bergantian dan bukan satu-satunya kedai yang berdiri di situ, usaha Tawar cukup laris. Sehari ia bisa menghabiskan 5 - 6 kilogram daging. "Kalau malam Minggu bisa 9 kilogram," cetus Tawar yang bisa mengantongi Rp 300 ribu setiap kali berjualan.

 YANG MULAI LANGKA, KUE RANGI DAN KERAK TELUR  

Di samping jajanan di atas yang mangkal di kedai-kedai atau restoran, ada juga jajanan keliling yang mulai langka ditemui. Di antaranya kue rangi dan kerak telur. Bagi Anda, terutama bukan penduduk Jakarta, kue rangi mungkin terdengar asing. Bentuknya mirip kue pancong atau bandros, ukurannya saja yang lebih kecil. Rasanya jauh berbeda karena kue rangi dibuat dari bahan yang sederhana. Cuma campuran tepung kanji dan kelapa parut. Setelah dipanggang, kue disajikan dengan larutan gula merah.

Harganya relatif sangat murah. Hanya Rp 100 tiap sekat atau Rp 1.000 tiap lembar yang terdiri dari 12 sekat kue. Tetapi jangan tanya perjuangan untuk mendapatkannya. Boleh jadi hari ini Anda melihat pedagang kue rangi lewat di jl. Palmerah, besok ditunggu beberapa jam pun tak Anda temui.

Menurut Opik, pedagang yang berhasil ditemui Sedap Sekejap, para pedagang memang menjajakan dagangannya tak tentu arah. Yang penting laku. Ada beberapa daerah yang masih cukup sering dilewati pedagang kue rangi. Di antaranya, daerah Tanah Abang, Palmerah, dan Muara Angke. "Sebetulnya, sih, masih ada sekitar 30 pedagang yang berjualan di daerah ini," kata Opik.

Satu-satunya pedagang kue rangi mangkal yang bisa ditemukan Sedap Sekejap adalah di daerah Sabang. Nama penjualnya, Buang Sujana. Pria kelahiran Bogor berusia 34 tahun ini sudah berjualan kue rangi sejak tahun 1989. Usaha ini didapatkan dari orang tuanya yang dulunya juga penjual kue rangi. Bahkan cetakan kue rangi yang digunakannya saat ini juga warisan dari orang tuanya.

"Kalau beli sekarang mahal, bisa sampai lima puluh ribu", ujarnya. Mula-mula ia menjual kue ini secara berkeliling sampai akhirnya mangkal di tempatnya sekarang sejak tahun 1994. Di tempat itu pun kadang dagangannya tak habis. Kalau sudah begitu, Buang akan pergi menyusur jalan sekitarnya. "Kalau untung, dapatlah satu hari Rp 40 ribu," katanya.

Kerak telur pun termasuk makanan agak sulit didapat saat ini meski tak sesusah kue rangi. Paling tidak dengan pergi ke Monas, Anda bisalah menemukan 5 tukang kerak telur. Bentuknya bulat pipih, penuh dengan taburan serundeng kelapa.

Cara membuatnya cukup unik. Ketan yang sudah direndam air dimasukkan ke wajan yang sudah panas, ditekan-tekan hingga membentuk lingkaran. Kemudian ditaburi kelapa parut yang sudah dikukus. Di atasnya lalu dipecahkan 1 butir telur dan dibubuhi garam dan vetsin. Ketika setengah matang, wajan dibalikkan untuk memanggang bagian atas kerak telur. Kerak telor tidak akan tumpah karena bagian ketannya sudak merekat pada wajan. Setelah matang, kerak telur disajikan bersama serundeng (kelapa parut yang disangrai) dan bawang goreng.

Untuk 1 buah kerak telur seperti ini dijual seharga Rp 3.500 hingga Rp 6 ribu. "Biasanya kita lihat-lihat pembelinya. Kalau tampak berduit, ya, kita naikkan," kata Nur Ali, seorang penjual kerak telur di Monas.

Setiap hari Ali berjualan sejak pukul 4 sore hingga 11 malam. Dalam waktu sepanjang itu ia cuma bisa menjual 17 porsi. Untuk 17 porsi itu, ia membutuhkan 1 liter beras ketan putih dan 1,5 kg telur. Tentu sebelum krismon, penghasilan Ali lebih besar lagi. Maklum mereka yang jalan-jalan ke Monas pun dulu lebih banyak ketimbang saat ini. Jadi, tak heran kalau para pedagang kerak telur undur diri dari usahanya. Bukankah penawaran selalu sejalan dengan permintaan? sdp@Miftakh Faried/ Foto-foto : Miftakh  

 

Hidangan Utama l Icip-icip l Hidangan Sebulan l Masuk  Dapur l Koki Cilik l Reka l Jumpa Pakar l Manca Kuliner
Seputar Kuliner
l Varia Kuliner l Pernik Cantik l Konsultasi Gizi l Resto Ke Resto l Silaturahmi l Kosa Kuliner  
Dapur Gaya
l Sajian Mendatang l Ulas Bahan l Kreatif l Kunjungan l Managemen
Coretan Redaksi
l Sajian Pembaca l Uji Saji l Konsultasi Kuliner l Anda dan Kami
 Jalan-Jalan
l Sehat Artikel l Teknopangan

KE MENU UTAMA