
Sedap Sekejap Edisi
7/I-Juni
2000
Kedai-kedai Es Krim di Jakarta
Menawarkan
Es Krim Lezat
Sekaligus Tempat Yang Nyaman
|
|
TJANANG, ES KRIM
DURIANNYA BIKIN KETAGIHAN
"Awalnya, sih, merupakan usul dari teman Ayah, bangsa Belanda. Ia juga memberi resep dasarnya. Kebetulan usaha makanan yang sebelumnya kami lakoni, kurang jalan saat itu," kisah Ny. Yenie Mulia, pemilik es krim Tjanang Tempat di Jl. Cikini Raya 81 itu milik sang ayah, Lie Sim Fie dan kakaknya. "Kebetulan kakak ayah juga punya di Jl. Sabang, jadi ini cabangnyalah," jelas Yenie.
Kini Yenie sendirilah yang memegang usaha ini setelah sepupunya, anak sang paman di Jl. Sabang, menjual usahanya. "Karena meski kami 7 bersaudara, hanya sayalah yang tertarik. Maka sejak tahun 1988, usaha ini diserahkan Ayah pada saya," ujar Yenie yang menjual es krimnya antara Rp. 2000 sampai Rp. 17.000-an ini. Mutu merupakan resep utama hingga es krim yang semula bernama Tjan Njan ini tetap bertahan dan terkenal. "Es krim kami tanpa bahan pengawet dan esens, lo. Terutama untuk es krim duriannya, kalau tidak dapat durian yang betul-betul enak, jangan harap bisa bikin, deh," tandas Yenie yang menjamin orang yang mencicipi es krim durian Tjanang, bakal ketagihan. Sulitnya durian amat tergantung musim. "Durian bangkok, selain terlalu mahal, juga terlalu kering hingga tidak pas dijadikan es krim," jelas Yenie. Wanita yang pernah belajar kosmetika ini berniat mempertahankan bisnis ini mengingat kedai es krimnya sudah punya nama. Paling tidak dua hari sekali ia mengunjungi pabriknya di daerah Tangerang. "Di sana saya mengatur produksi hingga distribusi. Saat ini Tjanang kembali lagi ke masa lalu, home industry. Tapi saya senang, kok. Karena sambil mengurus keluarga saya masih bisa meneruskan bisnis keluarga," cetusnya. ES KRIM TROPIC, BAHAN DASAR IMPOR
Kesukaan para penggemar es krim Tropic bisa dipastikan karena formulanya memang tidak diubah. "Resep dasarnya masih sama. Dan kami tidak menggunakan bahan pengawet," tandas Mayti. Biasanya penggemar setia memesan es krim tutti fruty atay banana split. Karena masih banyak peminatnya itulah, Mayti tetap membuat es krim setiap hari. "Kalau ditunda, pasti kehabisan," jelas Mayti yang memiliki 20 karyawan untuk mengurus restorannya itu.
Sujudi menduga resep yang mereka gunakan saat ini diperoleh dari Belanda. "Mungkin Ayah belajar dari temannya yang orang Belanda. Ayah hanya memberikan resep dasar susu saja. Sebagai anak paling besar, saya hanya dipesan untuk bisa meneruskan sampai anak cucu. Tidak perlu semua anak-anaknya terjun di bisnis ini. Cukup salah satu. Pokoknya jangan sampai putus," kenang Sujudi lagi. Setelah melalui tahun-tahun krismon kemarin, Sujudi optimis. "Sekarang orang back to nature, kan?" katanya. Meski sampai saat ini baru satu unit mesin yang bisa berpoduksi, padahal ia punya 3 mesin, toh, Sujudi mengaku sudah cukup dari lumayan. "Karena satu mesin pun, sudah mampu melayani pembeli di Pasar Baru, dan outlet-outlet di Mal Abassador dan Golden Truly Fatmawati." KAFE PISA, RESEP LEZAT DARI ITALIA
"Es krimnya sendiri sudah ada sejak tahun 1993. Pemiliknya adalah keluarga Sungkono, tetapi resepnya dari Matteo Guerinoni, orang Italia. Sekarang dia yang menjadi general manager Kafe Pisa," jelas Yani Singgih, PR & Marketing Manager Kafe Pisa. Es krim Kafe Pisa merupakan es krim home made. "Pembuatannya tanpa mempergunakan bahan pengawet. Bahkan beberapa raw material-nya masih impor, seperti zat pewarna khusus es krim dan flavournya," jelas Yani.
Kendari banyak orang gemar es krim durian, toh, kafe ini tidak menjual es krim durian. "Baunya terlalu tajam hingga bisa mempengaruhi keharuman es krim lainnya." Karena bahan yang digunakan alami, Yani mengaku es rim buatan Kafe Pisa tidak lagi enak dikonsumsi lewat dari dua hari. "Rasanya sudah tidak fresh lagi. Hingga kita buat jadi ice cake saja." ES KRIM BALTIC, MENYEDIAKAN LAYANAN ANTAR
Konsep pemasaran layan antar ini juga dilakukan untuk mengatasi persaingan yang kian hebat. Biasanya para pelanggan memasan ice cake untuk ulang tahun atau pernikahan. Nyatanya walau sekadar bertahan, produksi es krim Baltic tiap harinya berkisar 300 liter. "Pembeli menyukai konsep baru pemasaran ini. Mereka tinggal telepon dan menyebutkan pesanannya mau diantar ke mana dan minta ditagih di alamat mana.
Perubahan itu, kecuali strategi pemasaran, juga menciptakan tampilan es krim baru. sebelumnya Baltic cuma menjual es krim literan atau stik. Kini tersedia ice cake. Misalnya, Black Forest Ice Cake. Kini jenis ini paling laku. Es krim dalam bentuk cake yang berdiameter paling kecil 24 cm dijual seharga Rp 75 ribu. Ordernya pun tak main-main. Sehari Baltic bisa menjual lebih 20 loyang. |
Hidangan
Utama l
Icip-icip
l
Hidangan
Sebulan l
Masuk
Dapur l
Koki
Cilik l
Reka
l Jumpa
Pakar l
Manca
Kuliner
Seputar
Kuliner l
Varia
Kuliner l
Pernik
Cantik l
Konsultasi
Gizi l
Resto
Ke Resto l
Silaturahmi
l Kosa
Kuliner
Dapur Gaya
l Sajian
Mendatang l
Ulas
Bahan l
Kreatif l
Kunjungan
l
Managemen
Coretan
Redaksi l
Sajian
Pembaca l
Uji
Saji l Konsultasi
Kuliner l
Anda
dan Kami
Jalan-Jalan
l Sehat l Artikel
l Teknopangan
